Senin, 26 Desember 2011

Review Jurnal 16

Nama Kelompok :
Airin Akte Savira / 20210444 (airin_04)
Dessy lestari / 21210848 (dessy.lestari)
Juni Erbina Saragih / 23210813 (junierbinasaragih)
Siti Amanah / 26210579 (siti_amanah10)
Yuli Chatrine Castro /28210741 (chaterinecastro)

DAMPAK PEMBERDAYAAN UMKM DAN KOPERASI MELALUI PROGRAM PEMBIAYAAN PRODUKTIF KOPERASI DAN USAHA MIKRO (P3KUM) BAGI ANGGOTA KOPERASI

Abstrak
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana dampak programP3KUM terhadap, anggota Koperasi dan mayarakat. Di Kabupaten Brebes dampak atau manfaat dana P3KUM sangat dirasakan oleh anggota antara lain untuk meningkatkan volume usaha, omset, menghemat ongkos/transportasi, membantu perawatan kesehatan bagi keluarga dan memperbaiki MCK di keluarga. Manfaat lain yang juga dirasakan anggota adalah adanya rasa keinginan berkumpul pada saat RAT dan pada saat membayar pinjaman untuk berbagi pengalaman, berbagi informasi untuk menambah ide-ide baru dan sebagainya. Dalam proses berkoperasi, meminjam dan membayar terjadi proses belajar nonformal bagi anggota koperasi. Artinya jika Koperasi itu berfungsi secara baik di dalamnya ada sistem yang sudah berjalan secara otomatis untuk membangun kebersamaan. Oleh sebab itu program P3KUM perlu dilanjutkan agar berkesinambungan dan manfaatnya dapat dirasakan anggota. P3KUM, dampak, manfaat, volume usaha, omzet anggota, peningkatan kesehatan keluarga
I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ada beberapa alasan mengapa UMKM perlu diberdayakan.Alasan pertama adalah karena masih banyak atau sekurang-kurangnya 92 % UMKM belum akses dengan sumber permodalan. Fakta di lapangan menjelaskan bahwa (1) Bank hanya menjangkau 4 juta dari 48 juta bisnis unit UMKM pada lebih kurang 10.000 desa dari total desa di Indonesia. (2) jumlah dana perkuatan usaha selama periode 2000-2006 diberikan kepada 10.593 unit koperasi dengan nilai dukungan perkuatan sebesar Rp 2.41 trilyun atau sebesar Rp 227,7 juta per koperasi dinilai belum menjangkau UMKM (3) jumlah perkuatan usaha mikro, kecil dan menengah melalui lembaga non koperasi selama periode 2000-2006 diberikan kepada 14.131 unit dengan nilai dukungan perkuatan sebesar Rp 347,5 milyar atau sebesar Rp 24,7 juta per unit lembaga non koperasi juga masih belum memadai untuk memberdayakan UMKM yang ada. Alasan kedua adalah karena jumlahnya sangat besar. Menurut BPS (2006), jika pengusaha UMKM tidak diberdayakan menyebabkan kemiskinan makin besar dan menjadi beban seluruh bangsa. Alasan ketiga jika UMKM diberdayakan secara tepat akan menjadi usaha kecil yang kemudian berkembang menjadi usaha menengah dan alasan keempat. menurut hasil penelitian (Syukur, 2002) umumnya usaha mikro yang mendapat pelayanan keuangan pendapatannya meningkat per- bulan rata-rata 87, 34 % dan alasan yang kelima factor pendanaan menjadi daya dorong bagi usaha mikro untuk naik kelas menjadi usaha kecil dan bahkan bukannya tidak mungkin untuk terus ke usaha menengah. Usaha mikro mempunyai potensi untuk dikembangkan secara cepat. Selain keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan permodalan, UMKM juga masih memiliki keterbatasan dalam pemasaran, kompetensi berusaha yang masih lemah dan kurang memiliki jejaring usaha baik antar UMKM dan pengusaha besar untuk mengembangkan usahanya. Karena perkembangan usaha sangat terkait dengan faktor lain yang sangat mempengaruhi faktor ini juga menjadi faktor penentu untuk berkembangnya suatu usaha. Jika hanya faktor modal yang diatasi sedangkan faktor lain ditinggalkan maka modal tersebut akan kurang bermanfaat bagi UMKM.

1.2. Tujuan
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana dampak program P3KUM terhadap anggota koperasi dan mayarakat.

1.3. Manfaat Kajian
Manfaat kajian ini adalah sebagai bahan masukan untuk pengambil kebijakan dalam rangka penyempurnaan kebijakan di masa datang.

II. KERANGKA BERPIKIR

Kajian ini merupakan bagian dari kajian Dampak Pemberdayaan Koperasi dan UKM Bagi Kesejahteraan Masyarakat yang dilakukan pada tahun 2007. Bagian ini mengambil kasus Dampak Program Pembiayaan Produktif Koperasi dan Usaha Mikro (P3KUM) Tujuan umum pemberdayaan koperasi dan UKM adalah
(1) meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat di sekitarnya,
(2) mengurangi pengangguran dan (
3) mengurangi kemiskinan.
Kesejahteraan anggota dan masyarakat akan dicapai jika kebutuhan-kebutuhan anggota dan masyarakat dapat terpenuhi pada tingkat yang lebih baik. Pada dasarnya kebutuhan anggota dan masyarakat dibagi ke dalam dua kelompok yaitu:
(1) kebutuhan pisik (material) dan
(2) kebutuhan rohani (kejiwaan). Hal ini disebut membangun manusia seutuhnya, di mana kebutuhan fisik terpenuhi demikian juga kebutuhan rohani. Kedua kebutuhan ini harus seimbang supaya terdapat kesejahteraan dan kebahagian (M Hasibuan, 1987).

III. METODOLOGI KAJIAN

Kajian ini dilakukan dengan metode survey dengan studi kasus yaitu suatu kajian yang mengambil sampel dari suatu populasi (Singarimbun, 1998). Teknik Pengumpulan Data dilakukan dengan metode survey, data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dan data primer. Data Sekunder di ambil dari instansi terkait dan hasil kajian. Sedangkan data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan anggota responden. Teknik penetapan sampel dilakukan melalui metode purposive dengan ciri di kabupaten bersangkutan ada koperasi yang mendapat program pembiayaan produktif (P3KUM). Lokasi kajian yang dipilih adalah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dengan jumlah responden 4 koperasi meliputi:
1) KSU “Tegar”, Bumiayu;
2) Koperasi Petani Pemakai Air
“Dharma Tirta Sejahtera”, Paguyangan;
3) Koperasi “Mayar” Paguyangan;
4) KUD “Bhakti”, Tanjung. Teknik Analisis Data yang digunakan dalam kajian ini menggunakan metoda kualitatif dan mendiskripsikan pendapat anggoa tentang manfaat dana bergulir P3KUM.

IV. KONDISI PERKOPERASIAN KABUPATEN BREBES

Menurut Kajian Dampak Pemberdayaan Koperasi dan UKM Bagi Kesejahteraan Masyarakat, 2007, Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari 35 daerah otonom yang terletak di Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini memiliki 17 kecamatan yang tersebar pada 1.661,17 km2. sebanyak 5 kecamatan terdapat di daerah pantai, 9 kecamatan di dataran rendah dan 3 kecamatan di dataran tinggi. Kabupaten ini pada tahun 2005 berpenduduk 1.727.708 jiwa. Pendapatan Kabupaten Brebes pada tahun 2004 sebesar Rp. 476.469.220.000 yang kemudian meningkat di tahun 2005 menjadi Rp. 530.027.593.000 atau berarti terjadi kenaikan sebesar 11,24 %. Dari pendapatan ini kontribusi terbesar diterima dari sektor pajak yang menyumbang 38,51 % kemudian retribusi daerah 37,61 %, penerimaan lain-lain 48,35 % dan laba BUMD 5,53 %. Jumlah koperasi secara absolute di Kabupaten Brebes tercatat selalu meningkat dari tahun ke tahunnya. Pada tahun 2003 tercatat 250 koperasi yang meningkat menjadi 262 unit koperasi di tahun 2004 yang berarti meningkat sebanyak 12 unit koperasi atau 4,8 %. Angka ini kemudian bertambah lagi pada 2005 menjadi 264 yaitu naik 2 unit koperasi atau 0,76 %. Setelah itu pada tahun 2006 kembali mengalami kenaikan sebanyak 15 unit koperasi menjadi 279 unit koperasi atau 5,68 %. Jumlah koperasi masih naik secara absolute hingga per Agustus 2007 yaitu sebanyak 295 unit koperasi atau naik sebanyak 16 unit.

V. PEMBAHASAN
Dari hasil wawancara antara peneliti dan responden sebagai anggota koperasi yang berprofesi sebagai pedagang kecil, terungkap bahwa responden sangat merasakan manfaat dana P3KUM untuk meningkatkan omset, menghemat ongkos/transportasi untuk membeli barang dagangan ke Jatinegara, membantu perawatan kesehatan bagi keluarga dan memperbaiki MCK di keluarga. Manfaat lain yang dirasakan antara lain adalah adanya keinginan untuk berkumpul pada saat RAT dan pada giliran membayar pinjaman untuk berbagi pengalaman, berbagi informasi untuk menambah ide-ide baru. Dalam proses ini sebetulnya terjadi proses belajar nonformal yang tidak disadari sebagai pembina. Artinya jika koperasi itu berfungsi secara baik di dalamnya ada system yang sudah berjalan secara otomatis untuk membangun keluarga sejahtera.
Sejahtera dalam hal ini adalah anggota dapat memenuhi kebutuhan nyata dalam kehidupan dan dapat berbagi rasa duka dan suka bagi orang lain. Sungguh sangat sederhana, tapi itulah kehidupan riel anggota koperas yang perlu diperhatikan. Tidak perlu berpikir terlalu luas karena anggota koperasi kita kebutuhannya sangat-sangat riel sebagaimana dijelaskan di atas. Keadaan ini perlu dijaga dan dipelihara dan diikuti untuk pembinaan lebih lanjut. Karena inilah embrio atau jalan menuju peningkatan kesejahteraan lebih lanjut. Berkaitan dengan masalah dana bergulir yang belum jelas arahnya sampai saat ini perlu ditinjau untuk meneruskan apa yang sudah dilaksanakan sekarang sebagai pondasi yang kuat bagi pembinaan anggota koperasi lebih lanjut. Untuk menjaga perkembangan dan pembinaan koperasi di kabupaten Brebes, perlu diperhatikan faktor kebijakan di sektor lain. Misalnya masalah perijinan untuk beroperasinya bank swasta, dengan unit USP di tingkat kecamatan, yang berpengaruh pada kinerja koperasi di daerah yang bersangkutan. Selain itu kebijakan perijinan untuk minimarket/supermarket juga berpengaruh pada pedagang-pedagang di pasar tradisional, yang juga adalah anggota koperasi/dibiayai dengan pinjaman dari koperasi. Keadaan ini berpengaruh pada omzet dan keuntungan, yang selanjutnya berakibat pada pelunasan/pembayaran cicilan ke koperasi,

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

juga menjadi peminjam uang dari koperasi Dharmodalnya beasal dari sokongan dari kDari penjelasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut:

1. Dampak atau manfaat dana P3 KUM sangat dirasakan oleh angota responden untuk meningkatkan omset, menghemat ongkos/transportasi, membantu perawatan kesehatan bagi keluarga dan memperbaiki MCK di keluarga .

2. Manfaat lain yang dirasakan anggota antara lain adanya rasa keinginan berkumpul pada saat RAT dan pada saat membayar pinjaman untuk berbagi pengalaman, berbagi informasi untuk menambah ide-de baru.

3. Dalam proses berkoperasi meminjam dan membayar terjadi proses belajar nonformal bagi anggota koperasi Artinya jika Koperasi itu berfungsi secara baik di dalamnya ada sistem yang sudah berjalan secara otomatis untuk membangun kebersamaan

4. Koperasi dan anggota masih memerlukan kelanjutan dari program P3KUM untuk menambah modal dan manfaat-manfaat
5. Koperasi dan anggota memerlukan pendampingan untuk mengelola keuangan. Terutama dalam menghitung pembagian SHU dan untuk meyakinkan masyarakat terutama anggota koperasi agar lebih percaya kepada koperasi daripada kepada rentenir. Karena mekanisme yang cepat dari rentenir mampu memikat hati para koperasi untuk beralih ke rentenir, daripada meminjam ke koperasi
6. P3KUM sangat dibutuhkan anggota koperasi, oleh sebab itu program ini perlu diteruskan untuk membantu anggota koperasi pengusaha kecil.

7. Program P3KUM hendaknya dibuat secara berkesinambungan dan konsisten agar dapat dirasakan anggota manfaatnya, terserah sumberdananya darimana mengingat status dana perkuatan saat ini belum jelas keberadaannya tapi program ini perlu dilanjutkan
8. Agar pemerintah mengembalikan peran KUD menjadi penyalur pupuk resmi
agar dapat melayani anggotanya

DAFTAR BACAAN

Anonimus, (2005). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-
2009. PT Sinar Grafika. Jakarta.

Anonimus, (2005). Rencana Tindak Jangka Menengah (RTJM) Pemberdayaan
koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Jakarta.

Agung Nur Fadjar, (2007). Integrasi Program Pembangunan UKM. Makalah
seminar Isue- Isue Strategis Tanggal 20 Nopember 2007.

BPS, (2006). Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap
Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar
Minyak (BBM) UKM

Hans-Dieter Evers, (1982). Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Yayasan Ilmu-
ilmu Sosial.

Hasibuan Melayu, (1987). Ekonomi Pembangunan dan Perekonomian Indonesia.
CV Armico.

Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM No 09/Per/M.KUKM/VI/2006
Petunjuk Teknis Program Pembiayaan Produktif Koperasi dan Usaha
Mikro (P3KUM) Pola Konvensional. Kementerian Negara Koperasi dan
UKM. Jakarta.

Tim Penulis Deputi Bidang Pengakajian Sumberdaya UKMK Kerjasama dengan PT
Guntur Satria Perkasa, (2007). Kajian Dampak Pemberdayaan Koperasi
dan UKM bagi Kesejahteraan Masyarakat. Jakarta.

Review Jurnal 15

Nama kelompok:
Airin Akte Savira / 20210444 (airin_04)
Dessy lestari / 21210848 (dessy.lestari)

Juni Erbina Saragih / 23210813 (junierbinasaragih)

Siti Amanah / 26210579 (siti_amanah10)

Yuli Chatrine Castro /28210741 (chaterinecastro)
Sumber : http://www.smecda.com/kajian/files/Jurnal_3_2008/04_Johnny_W.pdf

PERINGKAT PROPINSI DALAM MEMBANGUN EKONOMI KOPERASI
ANALISIS BERDASARKAN INDEKS PEKR

Abstrak
Pembangunan ekonomi koperasi merupakan bagian integral dari ekonomi nasional
pembangunan. Kapasitas yang lebih tinggi dari daerah dalam perekonomian nasional, itu harus tercermin pada ekonomi yang lebih tinggi kerjasama regional. Dalam era outonomy daerah, koperasi developmet merupakan salah satu utama kewenangan kepala daerah. Sesuai dengan lingkungan dan iklim perubahan, setiap provinsi akan memacu untuk mengembangkan ekonomi koperasi untuk penduduk materalizing perekonomian.Salah satu dorongan untuk meningkatkan persaingan antar daerah adalah dengan mengidentifikasi posisi provinsi secara nasional. Dengan menggunakan kinerja ekonomi regional koperasi / PEKR indeks, maka peringkat provinsi di dapat diidentifikasi. Hasil analisis menunjukkan yang baik
kinerja dari satu provinsi tidak selalu ditunjukkan oleh kapasitas ekonomi tinggi regional di
perekonomian nasional. Pada 2006, peringkat tertinggi dicapai oleh Provinsi Gorontalo,
meskipun provinsi ini memiliki kapasitas ekonomi yang rendah daerah, tetapi mampu menciptakan yang sangat ekonomi koperasi tinggi.




PENDAHULUAN
Pasca krisis ekonomi Indonesia telah memasuki usia satu dekade. Kemajuan perekonomian Indonesia secara mendasar masih belum signifikan, meskipun stabilitas ekonomi makro telah pulih, khususnya dari indikator nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi yang terkendali, dan neraca perdagangan luar negeri yang positif, yang didukung oleh stabilitas politik. Sektor riil masih belum berkembang secara signifikan sejalan dengan stabilitas makro. Perekonomian secara mikro masih belum terpulihkan secara nyata karena engine of growthyang penting, yakni investasi dan dunia usaha, belum terpulihkan. Pangsa investasi terhadap PDB masih sekitar 22% selama ini, sangat jauh dari harapan untuk menjamin bergeraknya sektor riil. Untuk stabilitas sektor riil semestinya pangsa investasi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) di atas 35%. Sementara target pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan dukungan investasi yang tinggi pula baik dari investasi langsung nasional maupun asing (FDI). Dunia usaha, khususnya lembaga koperasi, belum menjadi andalan dalam menggerakkan sumberdaya domestik. Itu sebabnya, pengangguran dan kemiskinan masih menjadi persoalan pokok pembangunan ekonomi yang tidak hanya di perdesaan juga sudah menggapai perkotaan. Pengangguran dan kemiskinan di kota terjadi lebih diperparah oleh urbanisasi orang-orang dari pedesaan yang umumnya tidak mempunyai keterampilan dan keahlian di bidang usaha yang berciri perkotaan.
Persoalan mendasar yang menjadi penentu kemampuan menarik investasi ke Indonesia adalah iklim investasi dan bisnis yang tidak kondusif. Dari berbagai survey nasional dan internasional menyangkut bisnis dan ekonomi, Indonesia selalu berada pada posisi yang rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Artinya, Indonesia belum menjadi negara tujuan investasi. Kalaupun ada aliran investasi ke Indonesia belum menyentuh bidang usaha yang menjadi andalan perekonomian dan masih terlihat dunia usaha lebih menyukai pusat operasinya di regional (daerah) tertentu saja, khususnya di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Aliran investasi dalam rangka PMDN dan PMA separuhnya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali, dan sisanya dibagi oleh regional lainnya. Pola ini jelas dapat semakin memperbesar kesenjangan antar regional dimana regional selain Pulau Jawa dan Bali pembangunan ekonominya semakin jauh tertinggal. Kesenjangan antar regional ini sekaligus juga mempersulit upaya penanggulangan pengangguran dan kemiskinan. Bila kesenjangan ini masih berlanjut, itu mencerminkan pula kurang tepatnya strategi Pemerintah secara nasional menarik investasi dalam rangka pemulihan ekonomi dari krisis dan revitalisasi perekonomian.
Sejalan dengan otonomi daerah, kesenjangan pembangunan antar daerah yang tinggi menunjukkan tujuan otonomi daerah tidak tercapai dalam rangka menyejahterakan rakyat. Dengan otonomi, semestinya daerah, kabupaten, kota, dan propinsi, harus berlomba menunjukkan prestasi yang nyata di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat.
Mobilisasi sumberdaya lokal, praktis di bawah kendali pemerintahan lokal dan propinsi. Dengan demokrasi politik pemilihan langsung gubernur, bupati, dan walikota memberikan harapan kesungguhan setiap daerah membangun ekonomi dengan prinsip kompetisi. Program-program pembangunan menjadi implementasi strategi setiap pemimpin daerah dalam mewujudkan visi dan misi ketika kampanye pemilihan kepala daerah tersebut.
Secara praktis dapat dikatakan bahwa otonomi daerah memberikan kesempatan seluasluasnya kepada daerah untuk membangun sesuai dengan kapasitas daerah itu di tengah perubahan lingkungan strategis yang cepat. Pembangunan koperasi adalah salah satu strategi setiap kepala daerah dalam pembangunan ekonomi. Mengapa demikian? Karena koperasi telah dikenal luas selama ini sebagai lembaga yang dianggap mampu mewadahi masyarakat mencapai cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan kultur kerjasama. Secara ideal, koperasi tidak hanya sebagai badan usaha rakyat tapi juga sebagai lembaga yang dianggap mampu mengejawantahkan peran konstitusi (pasal 33 UUD 1945) dalam konteks ekonomi kerakyatan. Secara faktual, koperasi merupakan salah satu pelaku ekonomi sebagaimana bentuk badan usaha lain, seperti perseroan terbatas (PT). Dalam era otonomi daerah jelaslah bahwa pengembangan ekonomi koperasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan ekonomi nasional dan regional. Tentunya, para kepala daerah juga harus berlomba memajukan ekonomi koperasi di daerahnya.
Apakah perekonomian daerah yang tinggi dapat mencerminkan kemampuan propinsi mengembangkan koperasi? Hal ini patut dipertanyakan mengingat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah-daerah di Pulau Jawa dan Bali yang paling tinggi di Indonesia, ketersediaan infrastruktur yang lebih baik dari wilayah lainnya, serta jumlah penduduk yang banyak seyogianya mencerminkan kemampuan yang lebih tinggi Pulau Jawa dan Bali dalam mengembangkan ekonomi koperasi. Tulisan ini merupakan
hasil analisis terhadap performa propinsi alam pengembangan ekonomi koperasi pada tahun 2006 dengan menampilkan posisi atau peringkat propinsi dalam pengembangan ekonomi koperasi. Dengan menggunakan metode indeks, analisis ini menarik untuk disimak karena dapat menjadi gambaran bahwa ukuran perekonomi daerah yang kuat tidak mencerminkan sepenuhnya kemampuan mengembangkan ekonomi koperasi. Daerah di Pulau Jawa dan Bali sebagai daerah yang kuat perekonomian ternyata posisinya di bawah
daerah lainnya yang di luar P. Jawa dan Bali. Hasil analisis ini juga dapat membuktikan apakah strategi pemerintah daerah dan pusat, khususnya lembaga pemerintah yang bertanggungjawab pengembangan koperasi, mampu menjawab permasalahan dasar perekonomian sesuai grand strategies pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), khususnya dalam rangka otonomi daerah. Dengan kata lain, apakah pola pembangunan koperasi menjamin perbaikan perekonomian daerah dan nasional atau
berpotensi untuk meningkatkan kesejanjangan antar daerah bila pola tersebut terjadi terus menerus.
METODE ANALISIS
Berbagai metode dapat dikembangkan untuk menjawab masalah yang dikemukakan di atas. Selama ini, persoalan menyangkut peran koperasi lebih sering dikumandangkan berdasarkan analisis historikal yang normatif. Tulisan ini mencoba menampilkan analisis yang lebih positif dengan menggunakan fakta empirik menyangkut posisi ekonomi koperasi dikaitkan dengan kemampuan ekonomi regional dimana koperasi itu berada. Pendekatan relatifitas menjadi dasar dalam analisis ini. Untuk mengetahui performa propinsi dalam pengembangan ekonomi koperasi digunakan metode indeks, berdasarkan Indeks Performa Ekonomi Koperasi Regional (IPEKR) dari sisi regional atau propinsi atau kawasan Indonesia (selanjutnya disebut regional) atau Regional Cooperative Economic Performance Index (RCEPI). IPEKR atau indeks RCEP menjelaskan bagaimana performa relatif ekonomi koperasi secara regional (cooperative economic size by region) atau ukuran ekonomi koperasi setiap propinsi terhadap relatif ekonomi regional secara nasional (economic size relative by region). Secara metodik, IPEKR adalah perbandingan antara rasio nilai ekonomi atau bisnis koperasi regional dengan nasional yang dinyatakan sebagai ukuran ekonomi koperasi dengan rasio ekonomi regional propinsi tersebut dengan
nasional.
Metode ini cukup baik untuk menjelaskan rating dan peringkat regional/propinsi dalam pengembangan ekonomi atau bisnis koperasi), dan telah digunakan oleh para analis atau peneliti ekonomi untuk melihat posisi berbagai aspek, antara lain komoditas dalam
ekspor, negara dan propinsi menarik investasi, dan juga pembangunan wilayah. Untuk mengetahui dayasaing pasar suatu komoditas misalnya, metode ini digunakan dalam perdagangan luar negeri. UNCTAD (United Nation Conference on Trade and Development) menggunakan metode ini untuk analisis posisi negara-negara menarik FDI dalam the World Investment Report (WIR) setiap tahunnya.
Demikian juga penulis sendiri telah menggunakannya dalam memeringkat sektor perekonomian dan regional dalam menarik investasi PMDN dan PMA. Pada tahun 2007, Kementerian Negara KUKM melalui Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya KUKM juga mencoba menggunakannya untuk memeringkat propinsi dalam pembangunan KUKM. Dalam pembangunan wilayah, metode ini biasanya digunakan sebagai implementasi teori lokasi untuk menetukan lokasi perencanaan wilayah.
Analisis ini menggunakan data sekunder yang agregatif yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS), dan Bank Indonesia (BI) yang tertampil dalam website masingmasing lembaga. Data PDB dan PDRB adalah masing-masing pendapatan domestik bruto Indonesia dan propinsi. Sedangkan data volume usaha adalah nilai total volume usaha koperasi baik propinsi maupun nasional pada tahun 2006.
Seyogianya, performa tahun 2007 lebih mutakhir digambarkan dalam analisis ini. Namun data PDRB tidak tersedia. Bahkan untuk tahun 2006, sebagian propinsi belum mampu menampilkan data PDRB. Sehingga penulis melakukan elaborasi berdasarkan ukuran tahun-tahun sebelumnya dengan asumsi, pangsa propinsi terhadap nasional hampir tidak berubah dalam jangka pendek. Dalam analisis ini dimasukkan juga bagaimana perbedaan performa pengembangan ekonomi koperasi di Kawasan Barat Indonesia (KBI) yang terdiri dari Pulau Sumatera, Jawa dan Bali, dan sisanya Kawasan Timur Indonesia (KTI).
HASIL ANALISIS
1. Rating dan Peringkat Propinsi
Sebagaimana terlihat dalam metode analisis, IPEK merupakan ukuran rating propinsi dalam performa ekonomi koperasi. Pada tahun 2006, sebaran rating propinsi sangat beragam. Rating tertinggi adalah mencapai 5.6086 dan terendah 0.1224. Rating 5.6086 menunjukkan bahwa performa ekonomi koperasi regional mencapai 5.61 kali lebih tinggi daripada kemampuan ekonomi regionalnya.
Dengan kata lain, setiap 1% pangsa ekonomi regional terhadap nasional akan menciptakan 5.61% ekonomi koperasi regional. Rating 0.1224 berarti setiap 1% pangsa ekonomi regional hanya menciptakan 0.1224% ekonomi koperasi atau 87.76% di bawah kapasitas ekonomi regionalnya.
2. Ukuran Ekonomi Regional
Sejauhmana kemampuan ekonomi relatif regional/propinsi terhadap nasional merupakan ukuran ekonomi regional atau kapasitas dari propinsi tersebut dalam bidang ekonomi. Kapasitas itu diukur berdasarkan PDRB dan PDB yang biasa digunakan untuk mengukur perekonomian. Sepanjang tahun 2001-2005, PDB Indonesia mencapai rata-rata Rp1921.96 triliun per tahun. Selama kurun waktu tersebut, kontribusi PDRB terhadap PDB tertinggi adalah Propinsi DKI Jakarta, mencapai 15.7-18.4% atau rata-rata 16.6% per tahun, menyusul Jawa Timur 13.9-15.2% atau rata-rata 15% per tahun, dan Jawa Barat 13-14.9% atau rata-rata 13.6%, dan terrendah adalah Propinsi Gorontalo, sebesar rata-rata 0.12%. Propinsi-propinsi di Jawa, kecuali D.I .Yogyakarta dan Banten, termasuk penyumbang pendapatan terbesar secara nasional.
Pada tahun 2006, PDB Indonesia telah mencapai Rp3339.48 triliun. Kontribusi ekonomi regional terhadap PDB tertinggi adalah 0.1502 atau 15.02% dari PDB dan terrendah adalah 0.0007 atau hanya 0.07% dari PDB. Kontribusi ekonomi regional rata-rata adalah 0.0303 atau 3.03%. Oleh karena itu kontribusi di atas 3.03% telah menunjukkan yang tinggi dalam perekonomian. Pada Grafik 1
terlihat DKI Jakarta adalah propinsi yang mempunyai kapasitas ekonomi regional tertinggi dengan UER sebesar 0.1502 dan Gorontalo yang terendah, sebesar 0.0007. Propinsi yang mempunyai kapasitas ekonomi regional yang tinggi hanya sebanyak 7 (tujuh), yakni secara berturutan.
DKI Yakarta (1), Jawa Timur (2), Jawa Barat (3), Jawa Tengah (4), Kalimantan Timur (5), Riau (6), dan Sumatera Utara (7), selebihnya rendah dan sangat rendah. Kelompok propinsi terrendah kapasitas ekonomi regional sebanyak 14 propinsi dan Maluku, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Gorontolo merupakan kelompok paling rendah. Posisi ekonomi propinsi ini sejalan dengan gambaran perbedaan
kapasitas kawasan antara KBI dan KTI dimana kontribusi ekonomi KBI mencapai 77.8% terhadap nasional.
Memperhatikan kapasitas regional pada grafik 1, semestinya propinsi yang memiliki kapasitas tinggi dalam perekonomian akan menunjukkan performa ekonomi koperasi yang juga harus tinggi. Misalnya, dengan UER DKI Jakarta 0.1502, Jatim 0.1419, Jabar 0.1418, dan Jateng 0.0844 maka ukuran ekonomi koperasi (cooperative economic size) di masing-masing propinsi itu semestinya
akan mencapai minimal angka-angka tersebut. Namur kenyataannya berbeda, hal tersebut sangat tergantung pada strategi dan upaya propinsi menggerakkan sumberdaya ekonomi koperasi di wilayahnya. Kalau propinsi tersebut mampu menggerakkan sumberdaya koperasi melebihi UER-nya maka propinsi tersebut dinyatakan bekerja secara penuh memanfaatkan kapasitas ekonomi regionalnya.
Sebaliknya, kalau propinsi tersebut tidak sanggup menggerakkan sumberdayanya maka performa ekonomi koperasi regional akan rendah. Artinya, propinsi tidak mampu menggunakan kapasitas ekonominya dengan baik untuk memajukan koperasi sebagai wujud ekonomi rakyat.
3. Ukuran Ekonomi Koperasi Regional
Gambaran mengenai kemampuan propinsi mengembangkan ekonomi koperasi terlihat dari ukuran ekonomi koperasi regional (UEKR). Dimensi ini menunjukkan sejauhmana propinsi memberikan kontribusi terhadap ekonomi koperasi secara nasional. Indikator ini juga mencerminkan kapasitas propinsi dalam ekonomi koperasi. Pada Grafik 3 memperlihatkan bagaimana distribusi ekonomi koperasi menurut propinsi. Nilai UEKR tertinggi mencapai 0.3352 dan terendah sebesar 0.0002. Sama dengan ukuran ekonomi regional, nilai rata-rata adalah 0.0302. Sehingga propinsi yang memperoleh angka UEKR di atas 0.0302 adalah kategori tinggi ukuran ekonomi koperasinya. Dari semua propinsi, hanya 6 propinsi atau 18.2% dari seluruh propinsi yang memperoleh UEKR di atas 0.03, yakni secara berurutan Jawa Timur (0.3352), Jawa Barat (0.1414), Jawa Tengah (0.1412), DKI Jakarta (0.0780), dan Bali (0.0400). Kelima propinsi ini memberikan sumbangan terhadap ekonomi koperasi secara nasional mencapai 73.58%, sisanya10 merupakan kontribusi 28 propinsi lainnya. Posisi propinsi ini ditinjau dari UEKR sesuai dengan kondisi sumberdaya dan aksesibilitas daerah tersebut sebagai pusat ekonomi Indonesia.
Kapasitas ekonomi regional, yakni propinsi, pulau, dan kawasan, berdasarkan UER dan UEKR yang tinggi ternyata belum menjamin tingginya peringkat propinsi itu dalam performa ekonomi koperasi. Sebagaimana uraian pada Bab Rating dan Peringkat, terungkap bahwa IPEKR beberapa propinsi yang memiliki kapasitas tinggi baik ekonomi regional maupun ekonomi koperasi. Hanya Jawa Timur dan Jawa Tengah yang masuk dalam kategori performa baik. Sedangkan Jawa Barat, Sumatera Utara, dan DKI Jakarta tidak termasuk sebagai propinsi yang performanya baik. Justru sebagian besar propinsi yang kapasitas ekonomi regional yang rendah menduduki posisi tinggi dengan performa baik.
Mengapa bisa begitu? Hal itu disebabkan oleh kapasitas ekonomi regional yang tinggi tidak mampu menjadi penggerak ekonomi koperasinya. Artinya, pengembangan ekonomi koperasi di bawah kemampuan atau potensi ekonomi yang dimiliki. Misalnya Jawa Barat dengan UER sebesar 14.18% hanya mampu menciptakan UEKR sebesar 14.14%. Demikian juga DKI Jakarta dengan UER 15.02% hanya mampu menciptakan UEKR sebesar 7.8%. Sementara Gorontalo yang hanya mempunyai kapasitas ekonomi regional sebesar 0.07% malah mampu menciptakan ekonomi koperasi sebesar 0.37%. Demikian juga Bali dengan kapasitas ekonomi regional 1.12% mampu menciptakan ekonomi koperasinya sebesar 4.0%. Berdasarkan pulau, Bali dan Nusa Tenggara yang hanya mempunyai kapasitas ekonomi 2.55% ternyata mampu menciptakan ekonomi koperasi sebesar 5.38% yang mengalahkan Jawa dengan kapasitas ekonomi regional mencapai 55.6% tapi hanya mampu menciptakan ekonomi koperasi sebesar 73.5%. Sumatera misalnya, dengan kapasitas ekonomi regionalnya mencapai 21.35% tapi hanya 12 mampu menciptakan ekonomi koperasi di Sumatera sebesar 13.26%, jauh di bawah kapasitasnya.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat dinyatakan model analisis PEKR (Performa Ekonomi Koperasi Regional) dapat menjelaskan dengan baik posisi propinsi dalam perekonomian koperasi. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa peringkat tertinggi propinsi tidak selalu mencerminkan ukuran ekonomi regional yang tinggi secara nasional. Justru beberapa propinsi yang kapasitas ekonomi regionalnya rendah terhadap nasional menempati posisi yang tinggi ditinjau dari performanya. Penyebabnya terkait pada strategi mobilisasi kekuatan ekonomi yang tidak fokus pada koperasi. Walaupun para kepala daerah selalu menyatakan bahwa koperasi menjadi andalan untuk memajukan ekonomi rakyat, ternyata tidak mampu diwujudkan dalam proses pembangunan daerah. Dari kenyataan ini terindikasi adanya kecendurangan bahwa pernyataan yang mengutamakan peran koperasi sebagai sokoguru perekonomian rakyat lebih sekedar retorika politik dari kepala daerah yang performanya rendah.
Ditinjau dari kapasitas ekonomi regional dan ukuran ekonomi koperasi, kecenderungan terjadinya disparitas antar regional (propinsi, pulau, dan kawasan). Disparitas ini disebabkan oleh dukungan fasilitas (infrastruktur dan struktur) dan akses (pasar, informasi, dan finansial) yang sangat berbeda, serta jumlah penduduk yang lebih banyak. Disparitas ini tentunya tidak menguntungkan semua pihak baik secara lokal, regional, dan nasional. Semestinya, economic size yang tinggi akan menyebabkan cooperative economic size yang tinggi pula.
Untuk itu, sudah saatnya bagi kepala daerah yang peringkatnya rendah tapi kapasitas ekonominya tinggi meninjau kembali rencana strategi pembangunan daerah dan implementasi rencana tersebut agar tetap memberikan bobot yang tinggi pada koperasi. Hal ini dimungkinkan karena otonomi daerah memberikan keleluasaan kepala daera untuk mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan spesifik lokal daerahnya. Peringkat rendah propinsi dalam pengembangan koperasi seyogianya menjadi pemicu peningkatan persaingan antar daerah agar ekonomi koperasi semakin meningkat. Studi komparatif antar propinsi dimungkinkan untuk mengetahui bagaimana upaya pengembangan ekonomi koperasi. Misalnya, bagaimana Gorontalo yang kapasitas ekonomi regionalnya rendah secara nasional mampu menduduki peringkat teratas dalam performa ekonomi koperasi.
DAFTAR PUSTAKA
_____________, (2005). World Investment Report. Website UNCTAD. Swiss.
_____________, (2008). Statistik Indonesia 2008. Website BPS. Jakarta.
_____________, (2008). Statistik Bank Indonesia. Websit BI. Jakarta
Situmorang, Johnny W., (2006). Pemeringkatan Koperasi Berdasarkan Membership Dignity Performance Index. Studi Kasus Koperasi di Kabupaten Bandung. Bahan Diskusi Isyusyu Strategis, Kedeputian Pengkajian KUKM, Kementerian KUKM. Jakarta, Kamis 12
Oktober. Jakarta.
Situmorang, Johnny W, Pariaman Sinaga, dan Rinie Sriyanti, (2006). Prototipe Model Pemeringkatan Koperasi Berdasarkan Cooperative Membership Dignity Index. Studi Kasus Koperasi di Kabupaten Bandung. Majalah Infokop, Deputi Bidang Pengkajian
Sumberdaya UKMK, Kementerian Negara KUKM, Desember 2006. Jakarta

Review Jurnal 14

Nama Kelompok :
Airin Akte Savira / 20210444 (airin_04)
Dessy lestari / 21210848 (dessy.lestari)

Juni Erbina Saragih / 23210813 (junierbinasaragih)

Siti Amanah / 26210579 (siti_amanah10)

Yuli Chatrine Castro /28210741 (chaterinecastro)

Sumber : http://www.smecda.com/kajian/files/Jurnal_3_2008/01_T.Syarif.pdf

KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK UMKM

Abstrak
Kemampuan un UMKM menghadapi pasar global antara lain karena lemahnya
MSMEin acccessing informasi, terkait dengan tindakan promosi miskin untuk produk UMKM itu.
Promosi bisa dilakukan dengan berbagai upaya seperti eksposisi, kontak bisnis, perdagangan
misi, pusat bisnis, perdagangan rumah dan kegiatan lainnya. Promosi memiliki pengaruh yang nyata
terhadap peningkatan omset penjualan, laba, penyerapan tenaga. Peningkatan
teknologi produksi UMKM dan bisnis manajemen SISTEM UMKM. Dampak dari
kualitas nilai berbagai jenis promosi yang analized berturut-turut adalah:

1) Perdagangan Dewan; 2) Bisnis Mengumpulkan; 3) Pameran; dan 4) Misi Dagang. Beberapa variabel bebas yang memiliki pengaruh nyata pada keberhasilan promosi adalah: Promosi organizer), b) Biaya
promosi; c) Jenis dan kualitas komoditas, dan d) Lokasi atau situs promosi; e) Waktu
promosi; f) Jumlah pesaing komoditas dipromosikan. Beberapa masalah yang sering timbul dan
menurunkan efektivitas promosi adalah: a perencanaan) parsial Sektoral (un-terkoordinasi); b)
Kesesuaian lokasi dan produk yang akan dipromosikan secara khusus yang terkait dengan
permintaan pada komoditas yang akan dipromosikan; c) Pelaksanaan waktu dan characteristis
dari komoditas dan fluktuasi permintaan pada commoditu bersangkutan. untuk mengembangkan
Dewan Perdagangan, perlu sosialisasi manfaat dari program promosi ke
daerah, dan Dewan Perdagangan di banyak tempat.


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ketidakpercayaan terhadap kemampuan usaha mikro kecil dan menengah
(UMKM) dalam menghadapi era globalisasi berorientasi pada mekanisme pasar
bebas memang cukup beralasan, karena keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam
kelompok tersebut. Namun demikian perlu diingat bahwa sejak era penjajahan
UMKM sudah dihadapkan dan ditempa dengan berbagai masalah termasuk dari
aspek pemasaran, tetapi UMKM tetap eksis dalam mendukung pertekonomian
nasional. Ketidakmampuan UMKM untuk menghadapi pasar global mungkin
timbul karena lemahnya akses terhadap informasi. Kelemahan ini dapat
berdampak pada sempitnya peluang pasar dan ketidakpastian harga. Di sini terlihat
bahwa era bisnis global menuntut penguasaan informasi inovasi dan kreatifitas
pelaku usaha, baik dari aspek teknologi maupun kualitas sumberdaya manusia.
Lemahnya kemampuan UMKM dalam mengakses informasi diduga terkait
langsung dengan kondisi faktor internal UMKM yang dibayangi oleh berbagai Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Promosi, Pemasaran Produk UMKM 2
keterbatasan untuk mampu memberikan informasi kepada konsumen. Akibatnya
produk UMKM yang sebenarnya memiliki pangsa pasar yang cukup besar di dunia
internasional, belum banyak diketahui konsumen. Solusi penting yang perlu
dilakukan oleh UMKM untuk mengatasi masalah adalah mengenalkan produk-
produk UKM tersebut melalui kegiatan promosi, yang dapat dilakukan dalam
berbagai bentuk antara lain pameran, temu bisnis, misi dagang, business centre,
iklan layanan masyarakat, trading house dan lain-lain. Kepentingan promosi
produk UMKM juga merupakan salah satu bentuk antisipasi dampak era
globalisasi yang sudah pasti akan berimbas pada pangsa pasar UMKM baik di
dalam maupun di luar negeri.
Dengan memperhatikan kondisi dana dan sumberdaya manusia UMKM,
khususnya usaha mikro dan usaha kecil, kegiatan tersebut agaknya sulit dilakukan
oleh mereka sendiri. Untuk itu pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan
pemberdayaan UMKM (stakeholders), terutama pemerintah harus berpatisipasi
aktif membantu kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. Sebagai
implementasi dari pemikiran tersebut, pemerintah melalui Kementerian Negara
Koperasi dan UKM dan beberapa instansi lainnya telah melaksanakan berbagai
bentuk program promosi. Namun demikian sampai sekarang ini dampak dari
adanya program promosi tersebut belum diketahui dengan pasti, untuk itu
diperlukan adanya kajian yang komprehensif, menyangkut berbagai aspek yang
mempengaruhi keberhasilan program promosi produk UMKM.

1.2. Tujuan Kajian
1). Mengidentifikasi tingkat keberhasilan berbagai bentuk kegiatan promosi
pemasaran baik di dalam maupun di luar negeri terhadap peningkatan pangsa
pasar dan pendapatan UMKM
2). Mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas promosi
produk UMKM.

1.3. Sasaran Kajian
1). Mengetahui pengaruh berbagai kegiatan promosi pemasaran UMKM
terhadap perluasan pangsa produk UMKM dan pendapatan UMKM;
2). Mengidentifikasi faktor-faktor strategis yang mempengaruhi keberhasilan
kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dan;
3). Menetapkan Model dan Pola promosi pemasaran yang paling efektif untuk
mendukung perluasan pangsa pasar produk UMKM.

1.4. Manfaat
1). Didapatkannya gambaran konkrit tentang sejauh mana program promosi
produk UMKM dalam bentuk pameran berdampak positif terhadap pangsa
pasar produk KUKM, yang secara langsung diasumsikan dapat
meningkatkan pendapatan UMKM.
2). Didapatkannya bentuk program promosi pemasaran yang paling efektif untuk
mendukung peningkatan pangsa pasar dan pendapatan UMKM 3
3). Diketahuinya faktor-faktor strategis yang mempengaruhi keberhasilan
kegiatan promosi pemasaran produk UMKM.

II. KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Kerangka Dasar
Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM
adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. Secara konseptual diketahui
bahwa empat unsur yang mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan dalam
berkompetisi adalah a) produk, b) harga, c) tempat/lokasi dan, d) promosi.
Keempat faktor strategis ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran.
Dalam era keterbukaan ini dimana batas-batas ruang sudah mulai ditinggalkan
peran faktor promosi yang terkait dengan ruang yang sangat luas mulai
memperlihatkan pengaruh dominannya. Dominasi faktor promosi diindikasikan
dari luasnya penyebaran suatu jenis produk yang ada kalanya dapat menekan
pengaruh ketiga faktor lainnya.
Untuk memperoleh hasil yang maksimal, promosi harus dilakukan secara
profesional dalam artian pengusaha harus dapat memilih bentuk promosi yang
memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. Untuk kegiatan ini produsen harus
mengeluarkan biaya yang bisa cukup besar, oleh sebab itu sejak awal harus diper-
hitungkan batas kelayakan kegiatan promosi. Beberapa unsur yang harus
dimasukan dalam kalkulus perencanaan promosi adalah ; bentuk promosi, tempat
dan besaran promosi, jenis barang yang akan dipromosikan, peluang pasar,
pesaing, barang substitusi dan kompleter atas barang tersebut, selera konsumen,
trent atau mode dan faktor-faktor eksternal lainnya. Dari beberapa hasil
pengamatan antara lain yang dilakukan oleh Sirait (2002) diketahui bahwa, UKM
yang sering mengikuti kegiatan promosi kebanyakan UKM yang tergolong
mempunyai skala usaha kecil menuju menengah. Dari aspek jenis usaha diketahui
bahwa yang terbanyak adalah UMKM yang bergerak di sektor industri kerajinan.
Umumnya UMKM-UMKM ini belum memahami makna sesungguhnya dari
promosi. Untuk Melakukan promosi secara mandiri diperlukan pengetahuan dan
biaya yang cukup besar, sehingga sulit dilakukan oleh UMKM yang kondisinya
sangat terbatas.

2.2. Kerangka Operasional
Sesuai dengan tujuaan kajian maka analisis diarahkan melihat seberapa
besar dampak dari pelaksanaan pameran terhadap perluasan pasar yang berdampak
pada peningkatan omset UMKM. Secara skematis hubungan antar keterkaitan
faktor penentu, dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran
serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada bagan.

2.3. Variabel Analisis
1) Faktor penentukan (Independent variable) yaitu: a) kondisi internal
UMKM, yang terdiri dari teknologi produksi; b) volume produksi,
keahlian/keterampilan, penanganan dan omset usaha UMKM; c) Jenis produk
yang ingin dipamerkan/pasarkan, yang dibagi dalam tiga bentuk barang yaitu
barang kebutuhan primer, sekunder dan tersier; d) Frekuensi Keikutsertaan
UMKM dalam Pameran; e) Penyelenggaraan promosi; f) Tema promosi; h)
Karakter produk terdiri dari: (1) kualitas barang, (2) keunikan, (3)
Sasaran/target konsumen, dan (4) Target pasar; g) Biaya; i) Lokasi promosi;
j) Lama waktu penyelenggaran; k) Prosedur dan keikutsertaan; l) Jumlah
pesaing dan kondisi persaingan.
2) Dampak keberhasilan pelaksanaan pameran terdiri dari: a) Perluasan Pasar
Produk UMKM; b) Peningkatan teknologi produksi; c) Peningkatan
Kualitas Manajemen dan SDM.


III. RUANG LINGKUP PENELITIAN
3.1 Ruang lingkup substansi kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi
pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM; b)
Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas model-model promosi pemasaran
produk UMKM yang selama ini telah dilaksanakan baik oleh Kementerian Negara
Koperasi dan UKM maupun oleh para pemangku kepentingan (stakeholders)
lainnya; c) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas
program promosi pemasaran produk UMKM
3.2 Ruang Lingkup Lokasi
Kajian ini akan dilaksanakan di lima propinsi contoh yaitu: Jawa Tengah, D.I.
Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan NTB,

IV. METODE PENELITIAN
4.1. Data dan Metoda Pengumpulan Data
Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda
survey terbatas. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari
responden sample yang ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan
acak terbatas (purposive random sampling), serta data sekunder yang akan
dikumpulkan dari instansi terkait dan perpustakaan.
4.2. Metode Analisis
Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan maka penelitian ini
menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis
kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi
ideal dan kondisi riil di lapang, pendapat-pendapat dari berbagai unsur yang
terlibat dalam pelaksanaan program promosi UKMK dan dari studi pustaka.
1) Analisis kuantitatif akan menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan
matematik antara lain: analisa ekonomi sederhana berupa Model Analisa Biaya
Manfaat (benefid cost ratio), yang ditujukan untuk menentukan kelayakan
keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan pameran.
2) Regresi linier berganda (multy variete analysis) untuk menentukan ada
tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent variable terhadap
dependent variable.

V. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS
Ada empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh rata-rata
UMKM yaitu Pameran, Trading Board, Misi/Kontak Dagang dan Temu Bisnis,
Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (29 kali) diikuti UMKM.
Selama lima tahun terakhir dengan peserta 1.082 orang. Sedangkan Trading Board
sebanyak sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta, Misi Dagang dan
Kontak dagang, dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73
orang. Temu Bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh
UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang. Bentuk promosi yang terakhir ini
memang lebih banyak diprakarsai dan diikuti oleh kalangan pengusaha menengah.
Omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran 6
mencapai Rp 46,1 juta per UKM. Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah
dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119,8 juta menjadi Rp 158,2 juta, atau
meningkat sebesar Rp 33,6 juta per tahun (28,04%)
Rendahnya jumlah UMKM yang ikut kegiatan promosi terutama dipengaruhi
oleh bentuk dan lama waktu pelaksanaan promosi. Bentuk promosi yang banyak
menyerap peserta adalah pameran, diikuti dengan Trading Board, sedangkan Temu
Bisnis merupakan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta. Usaha
yang dapat dilakukan untuk memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program
promosi adalah: a) memperbanyak program-promosi melalui kerjasama dengan para
stakeholders; b) Memfasilitasi kegiatan promosi; c) mendorong UMKM untuk ikut
dalam program tersebut, dengan membuktikan bahwa kegiatan ini akan memberikan
manfaat ekonomi; d) memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta dalam kegiatan
promosi; e) membangun lingkage yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara
UMKM dengan semua stakeholder lainnya; serta f) untuk melaksanakan promosi dalam
skala yang lebih besar produsen dari suatu daerah produksi, dapat melaksanakannya
secara terkoordinasi.
Ada indiksi bahwa promosi pemasaran bukan kurang diminati oleh kalangan
UMKM, melainkan umumnya karena mereka tidak mampu membayar biaya kegiatan
tersebut. Besar biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan.
Komponen biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan promosi di luar modal kerja adalah:
a) sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) biaya pengepakan; d) biaya pengangkutan dan
biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran). Relatif mahalnya
biaya promosi, menyebabkan sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro dan
kecil, tidak mampu untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Keikutsertaan pengusaha mikro
memang belum diperlukan karena: a) skala usaha kelompok ini relatif sangat kecil
menjadi tidak layak dan b) barang-baran yang diproduksi juga sebagian besar menjadi
konsumsi lokal.
Adanya kecenderungan UMKM menilai keberhasilan kegiatan promosi
pameran, hanya dari sisi pembelian langsung adalah kurang ideal karena keberhasilan
pameran ditunjukkan dari keberhasilan pengembangan permintaan yang berdampak
pada peningkatan produksi, nilai jual (omset). Penilaian dampak promosi pemasaran
secara agregatif (pembelian sewaktu pameran), dapat menyebabkan sebagian UMKM
enggan untuk ikut dalam kegiatan promosi. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya
minat UMKM mengikuti promosi adalah minimnya sosialisasi, bahkan ada
kecenderungan sebagian besar UMKM tidak mengetahui adanya kegiatan promosi
pemasaran yang dilaksanakan oleh stakeholder.
Walupun promosi dalam bentuk Trading Board nampaknya sangat prospektif
untuk dikembangkan karena tidak banyak menyita sumberdaya UMKM, tetapi bentuk
promosi ini sulit dikembangkan karena memerlukan prasana dan sarana yang lebih
banyak. Untuk mengembangkan Trading Board disarankan agar pemerintah mendorong
stakeholders lainnya terutama Pemerintah Daerah.
Misi dagang/Kontak Dagang berdampak positif terhadap peningkatan jumlah
pembeli yang jauh lebih besar dibandingkan pameran dan bentuk bentuk lainnya.
Besarnya dampak misi dagang dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk 7
dalam jumlah yang relatif besar dan untuk jangka waktu panjang. Adanya kontrak
tersebut juga telah memberikan kepastian harga dan pasar bagi UMKM. Misi Dagang
atau Kontak Dagang hanya diminati oleh pembeli (buyers) barang kebutuhan primer dan
sekunder saja. Keengganan pembeli untuk melakukan kontrak barang kebutuhan tersier
disebabkan sering terjadinya perubahan selera konsumen. Misi dagang biasanya
dikaitkan dengan hubungan bilateral antara dua negara, terutama berkaitan dengan
masalah keseimbangan nilai eksport. Faktor lain yang sering dikaitkan dalam Misi
Dagang adalah hubungan ekonomi politik antara dua negara, maka kegiatan ini biasanya
diprakarsai dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah.
Dampak Temu Bisnis terhadap jumlah pembeli hanya 10,8% tetapi umumnya
pembeli adalah importir yang membeli dalam partai besar maka omset bisa meningkat
sebesar 28,15 %. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu ; a) harga pembelian
menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan;
b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual .
Trading board berdampak pada meningkatnya jumlah pembeli dan omset yang
relatif besar, hal ini dikarenakan Tarding Board umumnya memiliki jangkauan daerah
yang luas. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa: a) Trading Board sangat efektif
baik dalam meningkatkan jumlah pembeli maupun omset UMKM; b) Trading Board
tidak banyak memperbaiki harga jual, tetapi sudah memberikan kepastian pasar dan
kepastian harga yang sangat dibutuhkan oleh kalangan UMKM.
Waktu mempengaruhi dampak promosi. Pada tahun pertama dilakukannya
promosi pertambahan jumlah pembeli cukup besar dan mencapai puncaknya. pada tahun
ke dua atau ke tiga. Seiring dengan pertambahan waktu jumlah pembeli akan semakin
berkurang. Pada umumnya pada tahun ke lima jumlah pembeli sudah menurun dan
sampai lagi ke titik awal (sebelum dilakukannya kegiatan promosi) bahkan lebih rendah
lagi.
Rata-rata laba UMKM meningkat dari Rp 74,72 juta menjadi Rp 97,19 juta atau
sebesar Rp 22,47 juta (30,07 % dari laba sebelumnya). Peningkatan laba juga ternyata
bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM yang linier dengan
peningkatan omset UMKM, tetapi karena berkurangnya biaya produksi dan pemasaran
dan atau menambah omset UMK. Diindikasikan dari pertambahan laba UMKM yang
tidak linier dengan pertambahan omset mungkin dikarenakan rantai pemasaran menjadi
lebih pendek, sehingga margin yang selama ini banyak terserap dalam rantai pemasaran
terakumulasi menjadi nilai tambah bagi UMKM
Kegiatan promosi pemasaran juga berdampak nyata positif terhadap kemampuan
penyerapan tenaga kerja. Setelah lima tahun UMKM mengikuti program promosi,
penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 1,28 orang yaitu dari 4,13 menjadi 5,41
orang atau meningkat sebesar 30,99 %. Demikian juga Promosi pemasaran berdampak
positif terhadap peningkatan teknologi produksi UMKM. Nilai skors dampak promosi
terhadap pengembangan teknologi produksi menunjukan adanya peningkatan yaitu dari
1,96 sebelum promosi atau termasuk dalam katagori kurang, menjadi 2,33 atau termasuk
dalam katagori sedang. Beberapa kendala yang diduga mempengaruhi kemampuan
pengembangan teknologi produksi UMKM antara lain: a) kesulitan dalam mendapatkan
dana pinjaman untuk pembelian sarana usaha yang berteknologi lebih tinggi; b) adanya 8
aturan perundang-undangan yang menyebabkan kesulitan dalam pengadaan sarana
berteknologi seperti UU Perpajakan yang menetapkan pajak cukup tinggi untuk impor
barang-barang modal, UU penanaman modal belum memberikan kesempatan yang lebih
luas kepada investor asing untuk membangun mitra dengan UMKM; c) Kesulitan untuk
mendapatkan SDM yang berkemampuan untuk menggunakan teknologi maju dan atau
pengembangan SDM serta; d) Kurangnya dukungan dari stakeholders terutama baik di
tingkat kabupaten, tingkat propinsi maupun di tingkat pusat.
Promosi pemasaran juga berdampak positif terhadap pengembangan sistem
manajemen yang diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem
manajemen usaha UMKM. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sistem
manajemen usaha antara lain: a) masih rendahnya pengetahuan UMKM tentang peran
manajemen perusahaan; b) Sistem manajemen modern masih dianggap sebagai suatu
keterbukaan dalam usaha yang akan berdampak pada masuknya orang lain di bidang
yang dilakukan; c) Masuknya orang lain dalam sistem manajemen usaha mereka akan
menutup peluang kerja keluarga.
Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek
finansial UMKM. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan
oleh kondisi usaha UMKM sendiri, terutama laba dan omset. Secara agregat semua
Usaha kecil dan Menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi karena B/C ratio-
nya rata-rata mencapai 2,15. Hasil pengujian nilai bobot dari semua aspek pengamatan
terhadap keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran, mengindikasikan bahwa
sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil
dan pengusaha menengah urutan (Ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut:

Ranking Pertama adalah Trading Board dengan nilai bobot 227,19
Ranking Kedua adalah Temu Bisnis, dengan nilai bobot 184,14
Ranking ke tiga adalah Pameran dengan nilai bobot 180,36
Ranking ke empat adalah Misi Dagang dengan nilai bobot 157,61

Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari Trading Board adalah: a)
Peningkatan omset dengan nilai bobot 227,19; b) Peningkatan laba dengan nilai bobot
mencapai 58,90; dan c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja. Keberhasilan Trading
Board dalam mendukung kemampuan UMKM untuk mengembangkan akses
pemasarannya diduga disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Waktu promosi yang
cukup panjang (lama); b) Biaya promosi yang relatif rendah; serta c) jenis produksi
yang dipromosikan bisa sangat beragam.
Walaupun nilai bobot keberhasilan promosi dalam bentuk Temu Bisnis tidak ada
satupun yang menduduki urutan pertama, tetapi keberhasil bentuk promosi ini sangat
merata dari segala aspek penilaian. Dari beberapa indikator keberhasilan, hanya ada satu
faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. Rendahnya
kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan,
karena, Temu Bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan
omset penjualan. Temu Bisnis berbeda dengan bentuk-bentuk promosi lainnya karena
dalam Temu Bisnis, calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi tentang
produk-produk yang akan ditawarkan mulai dari jenis barang, kualitas barang, jumlah 9
barang serta pola kerjasama atau kemitraan. Dengan kata lain kegiatan Temu Bisnis
hanya titik puncak hubungan antara pembeli dan penjual yang sudah berkomunikasi
sebelumnya. Dalam Temu Bisnis biasanya kelompok produsen barang sejenis dan
kelompok pembeli hanya mematangkan berbagai hal yang sudah diinformasikan
(diagendakan) sebelumnya.
Dari aspek peningkatan omset, laba dan perbaikan manajemen usaha Temu
Bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. Sedangkan Dari aspek
penyerapan tenaga kerja bentuk promosi ini kurang ideal, karena tidak banyak
meningkatkan penyerapan tenaga kerja, dan sebaliknya sangat mendorong peningkatan
teknologi produksi. Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak
signifikan. Besarnya peningkatan teknologi dari adanya promosi dalam bentuk Temu
Bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan
dan selera konsumen; b) peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat
meningkatkan investasi; serta c) adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-
pihak lainnya untu menjual produk teknologi yang diproduksi, sehingga bisa terjadi
imbal beli.
Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam
mencapai nilai bobot kelayakan. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek
penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. Kehandalan dari aspek penyerapan tenaga
kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk-produk yang dipromosikan adalah barang-
barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya; b)
Pameran dapat memberikan inspirasi kepada pihak-pihak lain untuk membuat barang-
barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar, serta; c) Pameran
memperkenalkan produk-produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal sehingga
berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (backward effect) dan
industri hilirnya (foreward effect).
Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. Hal ini
dimungkinkan karena dengan ikut dalam pameran: a) produsen dapat berhubungan
langsung dengan konsumen baik dari lingkungan regional, Nasional maupun
Internasional; serta b) Dengan ikut kegiatan pameran akan ada hubungan langsung
antara produsen barang sejenis yang yang secara terorganisir maupun individual akan
dapat membentuk kerjasama dalam pemasaran produk mereka. Sedangkan dari aspek
lainnya peran promosi pemasaran dalam bentuk pameran kurang signifikan. Hal tersebut
terutama dikarenakan: a) keterbatasan ruang lingkup pameran baik dari aspek jenis
produk yang dipamerkan, lokasi pameran dan lama waktu pameran; b) Pameran
mermerlukan biaya yang harus ditanggung oleh UMKM relatif besar sehingga
berdampak terhadap kenaikan biaya produksi, yang secara langsung akan mengurangi
laba yang diperoleh UMKM
Walaupun Misi Dagang memiliki total nilai bobot terendah diantara keempat
jenis promosi pemasaran yang menjadi obyek dalam kajian ini, tetapi Misi dagang
memiliki keungulan spesifik. Keunggulan Misi Dagang ditunjukan dari aspek perbaikan
sistem manajemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. Dampak Misi
Dagang ini dindikasikan dari kenaikan nilai bobot kedua aspek penilaian tersebut
masing-masing 26, 37% dan 28,13%. Perbaikan sistem manajemen mungkin didorong
oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya, sedangkan pengembangan teknologi 10
produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki
adanya peningkatan kuantitas dan kualitas barang yang ingin dibeli.
Secara lebih spesifik keunggulan misi dagang diduga disebabkan oleh beberapa hal
antara lain:
1. Misi Dagang menghasilkan kesepakatan di bidang perdagangan antara dua negara
yang diaplikasikan dalam berbagai bentuk kegiatan perdagangan yang bersifat
terikat pada kontrak. Kontrak perdagangan yang terjadi antara dua negara ini
biasanya dilengkapi dengan target tertentu seperti keseimbangan perdagangan
sehingga berdasarkan pertimbangan permintaan pasar dan penawaran sejumlah
produk oleh negara produsen. Besarnya jumlah produk yang ditawarkan bisa
menyerap semua produk yang dihasilkan atau dalam jumlah tertentu yang biasanya
sebesar surplus pasar dari negara produsen;
2. Misi Dagang juga bukan tidak mungkin dikaitkan dengan bantuan baik berupa
hibah, pinjaman jangka pendek atau pinjaman jangka panjang dari negara produsen
yang berorientasi pada usaha menyerap semua surplus pasar atas komoditas yang
akan dipasarkan oleh negara produsen tersebut;
3. Misi dagang untuk negara berkembang seperti Indonesia sekarang ini juga bisa
diorientasikan pada kepentingan produk barang dari negara mitranya misalnya
kebutuhan senjata yang bisa dibeli dengan menjual sejenis produk yang diminati
oleh negara mitranya seperti imbal beli antara pesawat Sukhoi dengan CPO serta;
4. Misi Dagang juga bukan tidak mungkin dikaitkan dengan, atau berorientasi pada
kepentingan selain faktor ekonomi, sehingga adanya prinsip-prinsip ekonomi bisa
diabaikan. Dari aspek biaya yang dikeluarkan oleh UMKM kegiatan promosi
pemasaran sangat layak dilaksanakan karena, sebagian besar biaya yang dikeluarkan
untuk kegiatan tersebut ditanggung oleh pemerintah, sedangkan rata rata biaya per
Rupiah kenaikan yang dikeluarkan oleh pemerintah juga relatif kecil, dibandingkan
pertambahan omset dan laba UMKM yang diperoleh dari adanya kegiatan tersebut .
Potensi promosi dalam bentuk Misi dagang yang cukup menjanjikan tersebut
dimungkinkan karena: a) Peningkatan permintaan atas produk yang dipromosikan relatif
cukup besar, sehingga kenaikan total omset penjualan dari kelompok UMKM yang
memproduksi barang-barang tersebut juga cukup besar; dan b) harga produk ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara dua negara sesuai dengan rata-rata harga di pasaran
internasional sehingga ada kepastian harga baik untuk produsen maupun konsumen.
Pengembangan teknologi produksi UMKM menjadi lebih baik, hal ini
dimungkinkan karena: a) Pemerintah berkepentingan langsung dengan peningkatan
produksi dan efisiensi atas barang tersebut sehingga proses peningkatan teknologi
mendapat perhatian yang cukup besar; b) Adakalanya negara mitra akan menyediakan
atau membantu penyediaan tekonologi yang diperlukan; serta c) Oleh karena adanya
permintaan pasar yang cukup besar maka akan mendorong produsen (UMKM) untuk
menggunakan teknologi yang lebih baik.
Hasil pengamatan visual di lapangan menunjukkan adanya indikasi bahwa untuk
jenis barang kebutuhan primer seperti pakaian, sepatu tas tangan, suku cadang
kendaraan dan bahan makanan, kegiatan promosi pemasaran dampaknya relatif lebih 11
kecil dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier seperti
furniture perhiasaan dan handycraft.
Unsur penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata positif terhadap
perluasan pangsa pasar UMKM. Hal ini dimungkinkan karena walaupun promosi
merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan pangsa pasar
perusahaan baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, tetapi produsen
harus memperhatikan berbagai aspek promosi antara lain media promosi yang termasuk
di dalamnya unsur penyelenggara. Media promosi yang baik adalah yang dikelola secara
profesional sehingga mampu memberikan informasi produk secara luas dengan biaya
sekecil mungkin.
Dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM, yang paling besar
dampaknya terhadap perluasan pangsa pasar adalah yang diselenggarakan oleh
Pemerintah, terutama dalam bentuk Misi Dagang dan Pameran. Efektifitas kegiatan
promosi ini bersifat internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan biaya
yang relatif murah, ternyata sangat mendukung perluasan pangsa pasar UMKM.
Kehandalan Misi Dagang ditunjukan dengan tingginya jumlah pembeli barang produk
UMKM.
Biaya promosi sering menjadi unsur yang berpengaruh nyata terhadap
keberhasilan perusahaan dalam mengembangkan pangsa pasarnya. Namun demikian
penggunaan biaya promosi yang berlebihan terutama untuk produk tertentu seperti obat-
obatan dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan
tersebut bisa tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam suatu persaingan antara produsen sejenis barang, faktor kualitas barang
akan sama pentingnya, tetapi faktor kondisi keuangan konsumen yang terkait langsung
dengan lokasi promosi, akan menentukan pilihan faktor mana yang akan lebih
diperhatikan. Dari adanya kecenderungan tersebut maka barang-barang sejenis dapat
diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya. Klasifikasi barang sangat bermanfaat dalam
menentukan daerah pemasaran, karena barang dengan kualitas tertentu akan berbeda
permintaannya antara satu daerah dengan daerah lain. Dari pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa untuk memperluas pangsa pasar produk UMKM, juga harus
diperhatikan hubungan antara kualitas barang dengan lokasi promosi.
Perolehan laba suatu perusahaan merupakan fungsi dari efisiensi produksi dan
efisiensi pemasaran. Kondisi internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai
komponen dalam fungsi efisiensi produksi (melalui kualitas SDM dan asset yang
dimiliki). Pengaruh efisiensi fungsi produksi mungkin lebih kecil dari efisiensi fungsi
pemasaran, sehingga keeratan hubungan antara laba dengan kondisi internal UMKM
menjadi tertutup karena kondisi internal UMKM hanyalah bagian dari fungsi produksi.
Jenis barang yang dipromosikan tersebut sebagian adalah barang kebutuhan
primer seperti pakaian, Sepatu tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan makanan.
Sedangkan sebagian lagi merupakan barang kebutuhan sekunder dan tersier berupa
Obat-obatan (jamu) perhiasan dan Handicraft. Untuk kedua kelompok besar barang
tersebut, peran promosi pemasaran akan berbeda. 12
Media promosi yang baik adalah yang yang mampu memberikan informasi
produk secara luas dengan biaya sekecil mungkin. Hasil pengamatan deskriptif di
lapang mengindikasikan bahwa dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM,
yang paling besar dampaknya terhadap perluasan pangsa pasar adalah Misi Dagang.
Kegiatan promosi ini bersifat internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan
biaya yang relatif murah.
Dalam melaksanakan kegiatan promosi perusahaan harus mengetahui peta pasar
berdasarkan pertimbangan jenis produk yang akan dipasarkan, kualitas produk dan
harga produk. Lebih lanjut dikatakan bahwa keperluaan tersebut berkaitan dengan
prediksi permintaaan (demand) atas barang yang diproduksi pada daerah-daerah yang
akan menjadi target pasar perusahaan yang bersangkutan. Pengetahuan tentang daerah
pemasaran juga diperlukan dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan biaya
promosi. Kesalahan penentukan lokasi pasar akan menyebabkan penggunaaan dana
promosi yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam mening-
katkan perolehan laba. Namun demikian waktu promosi yang terlalu sempit disamping
menghemat penggunaan biaya promosi tetapi juga akan mengurangi efektifitas promosi.
Oleh sebab itu pengusaha harus dapat mempertimbangkan panjang waktu promosi yang
paling optimal, karena waktu promosi yang terlalu panjang juga dapat mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa tidak sebanding
dengan prediksi laba yang akan diperoleh.
Jumlah pesaing secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar, omset dan
laba perusahaan. Dalam era persaingan yang harus dilakukan oleh perusahaan
disamping efisiensi produksi dan manajemen adalah promosi yang sesuai. Perusahaan
tidak akan mampu meningkatkan pangsa pasar untuk memperoleh tingkat produksi dan
laba yang lebih besar, tanpa didukung oleh adanya sistem promosi yang efektif dan
efisien.
Kondisi internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam
fungsi efisiensi produksi (melalui kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan
prasarana yang dimiliki. jenis barang yang dipromosikan adalah barang-barang
kebutuhan primer seperti pakaian, Sepatu tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan
makanan. Jenis produk yang dipromosikan memiliki keeratan hubungan dengan luasnya
pangsa pasar yang mungkin diraih oleh UMKM.;
Empat variabel bebas yang berpengaruh nyata yaitu: 1) Kondisi internal UMKM
dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam fungsi efisiensi produksi (melalui
kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan prasarana yang dimiliki). 2) Jenis
produk yang dipromosikan dipasarkan terhadap peningkatan penggunaan teknologi oleh
UMKM nampaknya terkait langsung dengan luasnya pasar dan besarnya permintaan
pasar atas barang yang bersangkutan. Jenis barang yang dipromosikan adalah barang-
barang kebutuhan primer seperti pakaian, sepatu, tas tangan, suku cadang kendaraan dan
bahan makanan. Produksi barang-barang seperti ini dapat dipercepat dengan
menggunakan teknologi yang lebih maju; 3) Pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM
terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut
dalam kegiatan promosi, maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang 13
teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efisien produksi, yang
diperoleh dari berbagai pihak. Dorongan untuk memperbaiki teknologi produksi juga
disebabkan oleh semakin luasnya pasar dan besarnya permintaan pasar atas barang yang
bersangkutan serta : 4) Jumlah pesaing merupakan salah satu unsur yang secara umum
telah diketahui oleh para pengusaha secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar,
omset dan laba perusahaan. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu
perusahaan untuk berproduksi lebih efisien, untuk itu perusahaan yang bersangkutan
akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien.
Hanya ada satu variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan
manajemen usaha yaitu kondisi internal UMKM. bahwa perbaikan manjemen
perusahaan merupakan salah satu faktor yang sangat diperlukan dalam upaya
meningkatkan efisiensi usaha perusahaan yang bersangkutan. Pengembangan indikator
keberhasilan promosi ini dapat terjadi sebagai akibat adanya dorongan dari dalam
perusahaan sendiri maupun dorongan dari luar perusahaan. Dorongan dari dalam
perusahaan timbul karena adanya usaha berupa evaluasi internal maupun kondisi-
kondisi tertentu yang mengharuskan perusahaan untuk memperbaiki manjemen usaha
seperti banyaknya kebocoran sumberdaya dan atau kewajiban-kewajiban yang harus
dipenuhi. Sedangkan dorongan dari luar timbul dari tuntutan persaingan, mempelajari
keberhasilan perusahaan lain dan atau tuntutan para stakeholder seperti perbankan atau
para pemegang saham. Keikutsertaan UMKM dalam promosi mempengaruhi UMKM
yang bersangkutan Untuk memperbaiki manajemen usaha berdasarkan dua faktor yaitu
melihat keberhasilan orang lain dan berusaha meningkatkan efisiensinya untuk mampu
mengatasi masalah persaingan. Kondisi faktor internal yang mendorong perbaikan
manajemen usaha juga dapat dilihat dari dua aspek yaitu ketersedian SDM dan
permodalan UKM.
Terdapat 8 variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan
produksi UMKM yaitu: a) Kondisi internal UMKM. Peningkatan produksi suatu
perusahaan merupakan fungsi dari permintaan dan kondisi internal UMKM Kondisi
internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam fungsi efisiensi
produksi melalui kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan prasarana yang
dimiliki; b) Jenis produk yang dipromosikan adalah barang-barang kebutuhan primer
seperti pakaian, sepatu, tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan makanan; c)
Jumlah pesaing. Faktor ini secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar, omset
dan laba perusahaan. Untuk dapat mengeleminir ketatnya persaingan yang harus
dilakukan oleh perusahaan disamping meningkatkan efisiensi adalah melakukan
promosi yang sesuai. Perusahaan tidak akan mampu meningkatkan pangsa pasar untuk
memperoleh tingkat produksi dan laba yang lebih besar, tanpa didukung oleh adanya
sistem promosi yang efektif; d) Bentuk promosi hendaknya disesuaikan dengan budget
perusahaan yang didasarkan pada perhitungan harga tertinggi dari produk sejenis di
pasaran. Hasil pengamatan deskriptif lebih lanjut mengindikasikan bahwa bentuk
promosi yang paling berpeluang untuk meningkatkan pangsa pasar dari jenis barang
kebutuhan primer yang diproduksi oleh UMKM adalah pameran dan misi dagang; e)
penyelenggara promosi atau media promosi (penyelenggara) akan mempengaruhi
jangkauan promosi dan biaya promosi. Media promosi yang baik adalah yang mampu
memberikan informasi produk secara luas dengan biaya sekecil mungkin. 14
Dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM, yang paling besar dampaknya
terhadap perluasan pangsa pasar adalah Misi Dagang. Kegiatan promosi ini bersifat
internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan biaya yang relatif murah; f)
Biaya promosi menjadi unsur yang berpengaruh nyata terhadap keberhasilan perusahaan
dalam mengembangkan pangsa pasarnya. Namun demikian penggunaan biaya promosi
yang berlebihan terutama untuk produk tertentu seperti obat-obatan dapat
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa
tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam melaksanakan kegiatan promosi perusahaan harus mengetahui peta pasar
berdasarkan pertimbangan jenis produk yang akan dipasarkan, kualitas dan harga
produk. Lebih lanjut dikatakan bahwa keperluaan tersebut berkaitan dengan prediksi
demand atas barang yang diproduksi pada daerah-daerah yang akan menjadi target pasar
perusahaan yang berasangkutan. Pengetahuan tentang daerah pemasaran juga diperlukan
dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan biaya promosi. Kesalahan penentuan
lokasi pasar akan menyebabkan penggunaan dana promosi yang berlebihan yang dapat
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa
tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam suatu persaingan antara kualitas barang biasanya akan lebih diperhatikan
oleh konsumen dibandingkan dengan harga. Dari adanya konsepsi tersebut barang
sejenis dapat diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa
klasifikasi barang sangat bermanfaat dalam menentukan daerah pasar suatu barang
karena barang dengan kualitas tertentu akan berbeda permintaannya antara satu daerah
dengan daerah lain. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk memperluas
pangsa pasar produk UMKM, juga harus diperhatikan hubungan antara kualitas barang
dengan lokasi promosi.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Kegiatan Promosi selama tiga tahun pertama berpengaruh nyata terhadap
peningkatan omset penjualan dan laba, tetapi mulai tahun keempat pengaruh
tersebut kembali menurun. Peningkatkan laba UMKM bersifat kuadratik
terhadap peningkatan omset, karena peningkatan laba bukan hanya disebabkan
oleh omset UMKM tetapi juga karena berkurangnya marjin yang terserap
dalam serta pasar, serta adakalanya juga menurunkan biaya produksi.
2. Promosi pemasaran berdampak nyata positif terhadap kemampuan penyerapan
tenaga kerja. Setelah lima tahun UMKM mengikuti program promosi,
penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 1,28 orang yaitu dari 4,13
menjadi 5,41 orang atau meningkat sebesar 30,99 %.
3. Promosi pemasaran berdampak positif terhadap peningkatan teknologi
produksi UMKM yang diindikasikan dari meningkatnya nilai produksi. Enam
variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan teknologi
produksi adalah: a) Kondisi Internal UMKM; b) Jenis produk yang
dipromosikan; c) Jumlah pesaing; d) Bentuk promosi; e) Penyelenggara
Promosi atau media promosi (penyelenggara); dan f) Biaya promosi 15
4. Promosi pemasaran berdampak positif terhadap pengembangan sistem usaha
UMKM.
5. Nilai bobot dari semua aspek pengamatan terhadap keempat bentuk kegiatan
promosi pemasaran, mengindikasikan bahwa keempat bentuk kegiatan promosi
pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha
menengah, dengan urutan (ranking) nilai bobotnya: 1) Trading Board; 2) Temu
Bisnis; 3) Pameran dan; 4) Misi Dagang.
6. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari Trading Board adalah:
a) Peningkatan omset; b) Peningkatan laba dan; c) Peningkatan penyerapan
tenaga kerja. Keberhasilan tersebut didukung oleh: a) Waktu yang cukup
panjang (lama); b) Biaya promosi yang relatif rendah; serta c) jenis produksi
yang dipromosikan bisa sangat beragam.
7. Trading board berdampak positif pada meningkatnya jumlah pembeli dan
omset yang relatif besar, hal ini karena Trading Board memiliki jangkauan
daerah yang luas. Demikian juga untuk ikut dalam Trading diperlukan biaya
yang besar maka bentuk promosi ini juga layak dilakukan oleh semua UMKM
termasuk para pengusaha mikro.
8. Pameran mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan
jumlah pembeli; Kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dikarenakan;
a) Produk-produk yang dipromosikan adalah barang-barang yang dalam proses
pembuatannya bersifat padat karya; b) Pameran dapat memberikan inspirasi
kepada pihak-pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai
memiliki prospek ekonomi cukup besar, serta; c) Pameran memperkenalkan
produk-produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal sehingga
berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (backward
efect) dan industri hilirnya (foreward efect).
9. Pengaruh faktor variabel bebas terhadap keberhasilan kegiatan promosi
pemasaran adalah: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata
positif terhadap perluasan pangsa pasar UMKM; b) Biaya promosi
berpengaruh nyata terhadap keberhasilan mengembangkan pangsa pasarnya.
Namun demikian penggunaan biaya promosi yang berlebihan terutama untuk
produk tertentu seperti obat-obatan dapat mengakibatkan kerugian bagi
perusahaan; c) Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba
UMKM serta penigkatan kualitas teknologi. Faktor ini juga terkait langsung
dengan lokasi promosi, dan kondisi ekonomi daerah; d) Jenis barang yang
dipromosikan berpengaruh langsung terhadap omset dan laba UMKM; e)
Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan laba
UMKM; f) Penyelenggara berpengaruh nyata terhadap omset dan laba
UMKM; g) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam
meningkatkan perolehan laba; dan h) Jumlah pesaing secara langsung akan
mempengaruhi, pangsa pasar, omset dan laba perusahaan.
10. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efektifitas promosi
adalah: a) perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b)
Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang 16
berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) waktu
penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang
tersebut.

5.2. Saran
1. Untuk mengembangkan Trading Board perlu dilakukan sosialisasi kegunaan
dari program promosi tersebut ke daerah-daerah, sehingga dapat mendorong
pemerintah Daerah untuk membangun Trading Board di banyak tempat.
2. Usaha yang dapat dilakukan untuk memperbesar keikutsertaan UMKM dalam
program promosi adalah: a) memperbanyak program-promosi melalui
kerjasama dengan para stakeholder; b) Memfasilitasi kegiatan promosi ; c)
mendorong UMKM untuk ikut dalam program tersebut, dengan membuktikan
bahwa kegiatan ini akan dapat memberikan manfaat ekonomi; d)
memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta dalam kegiatan promosi; e)
membangun lingkage yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara
dengan semua stakeholder.
3. Untuk mengatasi berbagai masalah peningkatan efektifitas kegiatan promosi
pemasaran diperlukan: a) perencanaan yang terkoordinasi; b) Evaluasi
kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan; c) Perhitungan
waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas
barang tersebut.
4. Trading Board dapat dikembangkan di tingkat propinsi, nasional dan
internasional, misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh
pemerintah. Pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari
kabupaten sampai dengan tingkat internasional, sedangkan temu bisnis perlu
lebih didorong sehingga hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi
juga dapat dilakukan oleh UKM dan Koperasi.
5. Oleh karena usaha mikro belum layak untuk diikutsertakan dalam kegiatan
promosi maka keikutsertaannya dalam kegiatan ini dapat direkomendasikan
secara terbatas dengan subsidi biaya dari pemerintah.

DAFTAR BACAAN
Affandi, (1984). Manajemen Promosi dan Pemasaran Produk. PT. Bina Aksara. Jakarta.
Harry.R. Tosdal, (1969). Introduction to Sales Mangement. Mac Graw Hill Book Company
New York
Kasali Reinald, (2005). Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang
disampaikan dalam Seminar sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan
Dalam Menghadapi Pasar Global). Program Magister Manajemen Universitas
Indonesia. Jakarta.
Manulang, (1984). Marketing. Bharata. Jakarta.
Nurachmat, (2002). Kajian Manfaat Pameran dalam Meningkatkan Omset Industri kecil
(Thesis). Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung. 17
Panglaikim, (1980). Marketing (Suatu Pengantar). P.T. Pembangunan Jakarta.
Ramlan, (2001). Macam-macam Bentuk Promosi yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk
Industri Kecil. P.T. Bina Antar Nusa. Jakarta.
Shaw.A.R, (1967). Some Problem of Market Distribution. Business Review Havard
University of London.
Sujito, (1997). Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran melalui Program Promosi (Studi
kasus kebijakan Perdagangan Internasional). Program Pasca Sarjana Universitas
Gajah Mada.
Wahiddin, (2001). Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. Buletin
Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional.Nama Kelompok : Airin Akte Savira / 20210444
Dessy lestari / 21210848
Juni Erbina Saragih / 23210813
Siti Amanah / 26210579
Yuli Chatrine Castro /28210741
Sumber : http://www.smecda.com/kajian/files/Jurnal_3_2008/01_T.Syarif.pdf

KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK UMKM

Abstrak
Kemampuan un UMKM menghadapi pasar global antara lain karena lemahnya
MSMEin acccessing informasi, terkait dengan tindakan promosi miskin untuk produk UMKM itu.
Promosi bisa dilakukan dengan berbagai upaya seperti eksposisi, kontak bisnis, perdagangan
misi, pusat bisnis, perdagangan rumah dan kegiatan lainnya. Promosi memiliki pengaruh yang nyata
terhadap peningkatan omset penjualan, laba, penyerapan tenaga. Peningkatan
teknologi produksi UMKM dan bisnis manajemen SISTEM UMKM. Dampak dari
kualitas nilai berbagai jenis promosi yang analized berturut-turut adalah:

1) Perdagangan Dewan; 2) Bisnis Mengumpulkan; 3) Pameran; dan 4) Misi Dagang. Beberapa variabel bebas yang memiliki pengaruh nyata pada keberhasilan promosi adalah: Promosi organizer), b) Biaya
promosi; c) Jenis dan kualitas komoditas, dan d) Lokasi atau situs promosi; e) Waktu
promosi; f) Jumlah pesaing komoditas dipromosikan. Beberapa masalah yang sering timbul dan
menurunkan efektivitas promosi adalah: a perencanaan) parsial Sektoral (un-terkoordinasi); b)
Kesesuaian lokasi dan produk yang akan dipromosikan secara khusus yang terkait dengan
permintaan pada komoditas yang akan dipromosikan; c) Pelaksanaan waktu dan characteristis
dari komoditas dan fluktuasi permintaan pada commoditu bersangkutan. untuk mengembangkan
Dewan Perdagangan, perlu sosialisasi manfaat dari program promosi ke
daerah, dan Dewan Perdagangan di banyak tempat.


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ketidakpercayaan terhadap kemampuan usaha mikro kecil dan menengah
(UMKM) dalam menghadapi era globalisasi berorientasi pada mekanisme pasar
bebas memang cukup beralasan, karena keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam
kelompok tersebut. Namun demikian perlu diingat bahwa sejak era penjajahan
UMKM sudah dihadapkan dan ditempa dengan berbagai masalah termasuk dari
aspek pemasaran, tetapi UMKM tetap eksis dalam mendukung pertekonomian
nasional. Ketidakmampuan UMKM untuk menghadapi pasar global mungkin
timbul karena lemahnya akses terhadap informasi. Kelemahan ini dapat
berdampak pada sempitnya peluang pasar dan ketidakpastian harga. Di sini terlihat
bahwa era bisnis global menuntut penguasaan informasi inovasi dan kreatifitas
pelaku usaha, baik dari aspek teknologi maupun kualitas sumberdaya manusia.
Lemahnya kemampuan UMKM dalam mengakses informasi diduga terkait
langsung dengan kondisi faktor internal UMKM yang dibayangi oleh berbagai Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Promosi, Pemasaran Produk UMKM 2
keterbatasan untuk mampu memberikan informasi kepada konsumen. Akibatnya
produk UMKM yang sebenarnya memiliki pangsa pasar yang cukup besar di dunia
internasional, belum banyak diketahui konsumen. Solusi penting yang perlu
dilakukan oleh UMKM untuk mengatasi masalah adalah mengenalkan produk-
produk UKM tersebut melalui kegiatan promosi, yang dapat dilakukan dalam
berbagai bentuk antara lain pameran, temu bisnis, misi dagang, business centre,
iklan layanan masyarakat, trading house dan lain-lain. Kepentingan promosi
produk UMKM juga merupakan salah satu bentuk antisipasi dampak era
globalisasi yang sudah pasti akan berimbas pada pangsa pasar UMKM baik di
dalam maupun di luar negeri.
Dengan memperhatikan kondisi dana dan sumberdaya manusia UMKM,
khususnya usaha mikro dan usaha kecil, kegiatan tersebut agaknya sulit dilakukan
oleh mereka sendiri. Untuk itu pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan
pemberdayaan UMKM (stakeholders), terutama pemerintah harus berpatisipasi
aktif membantu kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. Sebagai
implementasi dari pemikiran tersebut, pemerintah melalui Kementerian Negara
Koperasi dan UKM dan beberapa instansi lainnya telah melaksanakan berbagai
bentuk program promosi. Namun demikian sampai sekarang ini dampak dari
adanya program promosi tersebut belum diketahui dengan pasti, untuk itu
diperlukan adanya kajian yang komprehensif, menyangkut berbagai aspek yang
mempengaruhi keberhasilan program promosi produk UMKM.

1.2. Tujuan Kajian
1). Mengidentifikasi tingkat keberhasilan berbagai bentuk kegiatan promosi
pemasaran baik di dalam maupun di luar negeri terhadap peningkatan pangsa
pasar dan pendapatan UMKM
2). Mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas promosi
produk UMKM.

1.3. Sasaran Kajian
1). Mengetahui pengaruh berbagai kegiatan promosi pemasaran UMKM
terhadap perluasan pangsa produk UMKM dan pendapatan UMKM;
2). Mengidentifikasi faktor-faktor strategis yang mempengaruhi keberhasilan
kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dan;
3). Menetapkan Model dan Pola promosi pemasaran yang paling efektif untuk
mendukung perluasan pangsa pasar produk UMKM.

1.4. Manfaat
1). Didapatkannya gambaran konkrit tentang sejauh mana program promosi
produk UMKM dalam bentuk pameran berdampak positif terhadap pangsa
pasar produk KUKM, yang secara langsung diasumsikan dapat
meningkatkan pendapatan UMKM.
2). Didapatkannya bentuk program promosi pemasaran yang paling efektif untuk
mendukung peningkatan pangsa pasar dan pendapatan UMKM 3
3). Diketahuinya faktor-faktor strategis yang mempengaruhi keberhasilan
kegiatan promosi pemasaran produk UMKM.

II. KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Kerangka Dasar
Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM
adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. Secara konseptual diketahui
bahwa empat unsur yang mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan dalam
berkompetisi adalah a) produk, b) harga, c) tempat/lokasi dan, d) promosi.
Keempat faktor strategis ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran.
Dalam era keterbukaan ini dimana batas-batas ruang sudah mulai ditinggalkan
peran faktor promosi yang terkait dengan ruang yang sangat luas mulai
memperlihatkan pengaruh dominannya. Dominasi faktor promosi diindikasikan
dari luasnya penyebaran suatu jenis produk yang ada kalanya dapat menekan
pengaruh ketiga faktor lainnya.
Untuk memperoleh hasil yang maksimal, promosi harus dilakukan secara
profesional dalam artian pengusaha harus dapat memilih bentuk promosi yang
memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. Untuk kegiatan ini produsen harus
mengeluarkan biaya yang bisa cukup besar, oleh sebab itu sejak awal harus diper-
hitungkan batas kelayakan kegiatan promosi. Beberapa unsur yang harus
dimasukan dalam kalkulus perencanaan promosi adalah ; bentuk promosi, tempat
dan besaran promosi, jenis barang yang akan dipromosikan, peluang pasar,
pesaing, barang substitusi dan kompleter atas barang tersebut, selera konsumen,
trent atau mode dan faktor-faktor eksternal lainnya. Dari beberapa hasil
pengamatan antara lain yang dilakukan oleh Sirait (2002) diketahui bahwa, UKM
yang sering mengikuti kegiatan promosi kebanyakan UKM yang tergolong
mempunyai skala usaha kecil menuju menengah. Dari aspek jenis usaha diketahui
bahwa yang terbanyak adalah UMKM yang bergerak di sektor industri kerajinan.
Umumnya UMKM-UMKM ini belum memahami makna sesungguhnya dari
promosi. Untuk Melakukan promosi secara mandiri diperlukan pengetahuan dan
biaya yang cukup besar, sehingga sulit dilakukan oleh UMKM yang kondisinya
sangat terbatas.

2.2. Kerangka Operasional
Sesuai dengan tujuaan kajian maka analisis diarahkan melihat seberapa
besar dampak dari pelaksanaan pameran terhadap perluasan pasar yang berdampak
pada peningkatan omset UMKM. Secara skematis hubungan antar keterkaitan
faktor penentu, dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran
serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada bagan.

2.3. Variabel Analisis
1) Faktor penentukan (Independent variable) yaitu: a) kondisi internal
UMKM, yang terdiri dari teknologi produksi; b) volume produksi,
keahlian/keterampilan, penanganan dan omset usaha UMKM; c) Jenis produk
yang ingin dipamerkan/pasarkan, yang dibagi dalam tiga bentuk barang yaitu
barang kebutuhan primer, sekunder dan tersier; d) Frekuensi Keikutsertaan
UMKM dalam Pameran; e) Penyelenggaraan promosi; f) Tema promosi; h)
Karakter produk terdiri dari: (1) kualitas barang, (2) keunikan, (3)
Sasaran/target konsumen, dan (4) Target pasar; g) Biaya; i) Lokasi promosi;
j) Lama waktu penyelenggaran; k) Prosedur dan keikutsertaan; l) Jumlah
pesaing dan kondisi persaingan.
2) Dampak keberhasilan pelaksanaan pameran terdiri dari: a) Perluasan Pasar
Produk UMKM; b) Peningkatan teknologi produksi; c) Peningkatan
Kualitas Manajemen dan SDM.


III. RUANG LINGKUP PENELITIAN
3.1 Ruang lingkup substansi kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi
pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM; b)
Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas model-model promosi pemasaran
produk UMKM yang selama ini telah dilaksanakan baik oleh Kementerian Negara
Koperasi dan UKM maupun oleh para pemangku kepentingan (stakeholders)
lainnya; c) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas
program promosi pemasaran produk UMKM
3.2 Ruang Lingkup Lokasi
Kajian ini akan dilaksanakan di lima propinsi contoh yaitu: Jawa Tengah, D.I.
Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan NTB,

IV. METODE PENELITIAN
4.1. Data dan Metoda Pengumpulan Data
Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda
survey terbatas. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari
responden sample yang ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan
acak terbatas (purposive random sampling), serta data sekunder yang akan
dikumpulkan dari instansi terkait dan perpustakaan.
4.2. Metode Analisis
Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan maka penelitian ini
menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis
kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi
ideal dan kondisi riil di lapang, pendapat-pendapat dari berbagai unsur yang
terlibat dalam pelaksanaan program promosi UKMK dan dari studi pustaka.
1) Analisis kuantitatif akan menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan
matematik antara lain: analisa ekonomi sederhana berupa Model Analisa Biaya
Manfaat (benefid cost ratio), yang ditujukan untuk menentukan kelayakan
keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan pameran.
2) Regresi linier berganda (multy variete analysis) untuk menentukan ada
tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent variable terhadap
dependent variable.

V. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS
Ada empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh rata-rata
UMKM yaitu Pameran, Trading Board, Misi/Kontak Dagang dan Temu Bisnis,
Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (29 kali) diikuti UMKM.
Selama lima tahun terakhir dengan peserta 1.082 orang. Sedangkan Trading Board
sebanyak sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta, Misi Dagang dan
Kontak dagang, dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73
orang. Temu Bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh
UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang. Bentuk promosi yang terakhir ini
memang lebih banyak diprakarsai dan diikuti oleh kalangan pengusaha menengah.
Omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran 6
mencapai Rp 46,1 juta per UKM. Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah
dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119,8 juta menjadi Rp 158,2 juta, atau
meningkat sebesar Rp 33,6 juta per tahun (28,04%)
Rendahnya jumlah UMKM yang ikut kegiatan promosi terutama dipengaruhi
oleh bentuk dan lama waktu pelaksanaan promosi. Bentuk promosi yang banyak
menyerap peserta adalah pameran, diikuti dengan Trading Board, sedangkan Temu
Bisnis merupakan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta. Usaha
yang dapat dilakukan untuk memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program
promosi adalah: a) memperbanyak program-promosi melalui kerjasama dengan para
stakeholders; b) Memfasilitasi kegiatan promosi; c) mendorong UMKM untuk ikut
dalam program tersebut, dengan membuktikan bahwa kegiatan ini akan memberikan
manfaat ekonomi; d) memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta dalam kegiatan
promosi; e) membangun lingkage yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara
UMKM dengan semua stakeholder lainnya; serta f) untuk melaksanakan promosi dalam
skala yang lebih besar produsen dari suatu daerah produksi, dapat melaksanakannya
secara terkoordinasi.
Ada indiksi bahwa promosi pemasaran bukan kurang diminati oleh kalangan
UMKM, melainkan umumnya karena mereka tidak mampu membayar biaya kegiatan
tersebut. Besar biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan.
Komponen biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan promosi di luar modal kerja adalah:
a) sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) biaya pengepakan; d) biaya pengangkutan dan
biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran). Relatif mahalnya
biaya promosi, menyebabkan sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro dan
kecil, tidak mampu untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Keikutsertaan pengusaha mikro
memang belum diperlukan karena: a) skala usaha kelompok ini relatif sangat kecil
menjadi tidak layak dan b) barang-baran yang diproduksi juga sebagian besar menjadi
konsumsi lokal.
Adanya kecenderungan UMKM menilai keberhasilan kegiatan promosi
pameran, hanya dari sisi pembelian langsung adalah kurang ideal karena keberhasilan
pameran ditunjukkan dari keberhasilan pengembangan permintaan yang berdampak
pada peningkatan produksi, nilai jual (omset). Penilaian dampak promosi pemasaran
secara agregatif (pembelian sewaktu pameran), dapat menyebabkan sebagian UMKM
enggan untuk ikut dalam kegiatan promosi. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya
minat UMKM mengikuti promosi adalah minimnya sosialisasi, bahkan ada
kecenderungan sebagian besar UMKM tidak mengetahui adanya kegiatan promosi
pemasaran yang dilaksanakan oleh stakeholder.
Walupun promosi dalam bentuk Trading Board nampaknya sangat prospektif
untuk dikembangkan karena tidak banyak menyita sumberdaya UMKM, tetapi bentuk
promosi ini sulit dikembangkan karena memerlukan prasana dan sarana yang lebih
banyak. Untuk mengembangkan Trading Board disarankan agar pemerintah mendorong
stakeholders lainnya terutama Pemerintah Daerah.
Misi dagang/Kontak Dagang berdampak positif terhadap peningkatan jumlah
pembeli yang jauh lebih besar dibandingkan pameran dan bentuk bentuk lainnya.
Besarnya dampak misi dagang dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk 7
dalam jumlah yang relatif besar dan untuk jangka waktu panjang. Adanya kontrak
tersebut juga telah memberikan kepastian harga dan pasar bagi UMKM. Misi Dagang
atau Kontak Dagang hanya diminati oleh pembeli (buyers) barang kebutuhan primer dan
sekunder saja. Keengganan pembeli untuk melakukan kontrak barang kebutuhan tersier
disebabkan sering terjadinya perubahan selera konsumen. Misi dagang biasanya
dikaitkan dengan hubungan bilateral antara dua negara, terutama berkaitan dengan
masalah keseimbangan nilai eksport. Faktor lain yang sering dikaitkan dalam Misi
Dagang adalah hubungan ekonomi politik antara dua negara, maka kegiatan ini biasanya
diprakarsai dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah.
Dampak Temu Bisnis terhadap jumlah pembeli hanya 10,8% tetapi umumnya
pembeli adalah importir yang membeli dalam partai besar maka omset bisa meningkat
sebesar 28,15 %. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu ; a) harga pembelian
menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan;
b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual .
Trading board berdampak pada meningkatnya jumlah pembeli dan omset yang
relatif besar, hal ini dikarenakan Tarding Board umumnya memiliki jangkauan daerah
yang luas. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa: a) Trading Board sangat efektif
baik dalam meningkatkan jumlah pembeli maupun omset UMKM; b) Trading Board
tidak banyak memperbaiki harga jual, tetapi sudah memberikan kepastian pasar dan
kepastian harga yang sangat dibutuhkan oleh kalangan UMKM.
Waktu mempengaruhi dampak promosi. Pada tahun pertama dilakukannya
promosi pertambahan jumlah pembeli cukup besar dan mencapai puncaknya. pada tahun
ke dua atau ke tiga. Seiring dengan pertambahan waktu jumlah pembeli akan semakin
berkurang. Pada umumnya pada tahun ke lima jumlah pembeli sudah menurun dan
sampai lagi ke titik awal (sebelum dilakukannya kegiatan promosi) bahkan lebih rendah
lagi.
Rata-rata laba UMKM meningkat dari Rp 74,72 juta menjadi Rp 97,19 juta atau
sebesar Rp 22,47 juta (30,07 % dari laba sebelumnya). Peningkatan laba juga ternyata
bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM yang linier dengan
peningkatan omset UMKM, tetapi karena berkurangnya biaya produksi dan pemasaran
dan atau menambah omset UMK. Diindikasikan dari pertambahan laba UMKM yang
tidak linier dengan pertambahan omset mungkin dikarenakan rantai pemasaran menjadi
lebih pendek, sehingga margin yang selama ini banyak terserap dalam rantai pemasaran
terakumulasi menjadi nilai tambah bagi UMKM
Kegiatan promosi pemasaran juga berdampak nyata positif terhadap kemampuan
penyerapan tenaga kerja. Setelah lima tahun UMKM mengikuti program promosi,
penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 1,28 orang yaitu dari 4,13 menjadi 5,41
orang atau meningkat sebesar 30,99 %. Demikian juga Promosi pemasaran berdampak
positif terhadap peningkatan teknologi produksi UMKM. Nilai skors dampak promosi
terhadap pengembangan teknologi produksi menunjukan adanya peningkatan yaitu dari
1,96 sebelum promosi atau termasuk dalam katagori kurang, menjadi 2,33 atau termasuk
dalam katagori sedang. Beberapa kendala yang diduga mempengaruhi kemampuan
pengembangan teknologi produksi UMKM antara lain: a) kesulitan dalam mendapatkan
dana pinjaman untuk pembelian sarana usaha yang berteknologi lebih tinggi; b) adanya 8
aturan perundang-undangan yang menyebabkan kesulitan dalam pengadaan sarana
berteknologi seperti UU Perpajakan yang menetapkan pajak cukup tinggi untuk impor
barang-barang modal, UU penanaman modal belum memberikan kesempatan yang lebih
luas kepada investor asing untuk membangun mitra dengan UMKM; c) Kesulitan untuk
mendapatkan SDM yang berkemampuan untuk menggunakan teknologi maju dan atau
pengembangan SDM serta; d) Kurangnya dukungan dari stakeholders terutama baik di
tingkat kabupaten, tingkat propinsi maupun di tingkat pusat.
Promosi pemasaran juga berdampak positif terhadap pengembangan sistem
manajemen yang diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem
manajemen usaha UMKM. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sistem
manajemen usaha antara lain: a) masih rendahnya pengetahuan UMKM tentang peran
manajemen perusahaan; b) Sistem manajemen modern masih dianggap sebagai suatu
keterbukaan dalam usaha yang akan berdampak pada masuknya orang lain di bidang
yang dilakukan; c) Masuknya orang lain dalam sistem manajemen usaha mereka akan
menutup peluang kerja keluarga.
Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek
finansial UMKM. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan
oleh kondisi usaha UMKM sendiri, terutama laba dan omset. Secara agregat semua
Usaha kecil dan Menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi karena B/C ratio-
nya rata-rata mencapai 2,15. Hasil pengujian nilai bobot dari semua aspek pengamatan
terhadap keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran, mengindikasikan bahwa
sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil
dan pengusaha menengah urutan (Ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut:

Ranking Pertama adalah Trading Board dengan nilai bobot 227,19
Ranking Kedua adalah Temu Bisnis, dengan nilai bobot 184,14
Ranking ke tiga adalah Pameran dengan nilai bobot 180,36
Ranking ke empat adalah Misi Dagang dengan nilai bobot 157,61

Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari Trading Board adalah: a)
Peningkatan omset dengan nilai bobot 227,19; b) Peningkatan laba dengan nilai bobot
mencapai 58,90; dan c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja. Keberhasilan Trading
Board dalam mendukung kemampuan UMKM untuk mengembangkan akses
pemasarannya diduga disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Waktu promosi yang
cukup panjang (lama); b) Biaya promosi yang relatif rendah; serta c) jenis produksi
yang dipromosikan bisa sangat beragam.
Walaupun nilai bobot keberhasilan promosi dalam bentuk Temu Bisnis tidak ada
satupun yang menduduki urutan pertama, tetapi keberhasil bentuk promosi ini sangat
merata dari segala aspek penilaian. Dari beberapa indikator keberhasilan, hanya ada satu
faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. Rendahnya
kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan,
karena, Temu Bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan
omset penjualan. Temu Bisnis berbeda dengan bentuk-bentuk promosi lainnya karena
dalam Temu Bisnis, calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi tentang
produk-produk yang akan ditawarkan mulai dari jenis barang, kualitas barang, jumlah 9
barang serta pola kerjasama atau kemitraan. Dengan kata lain kegiatan Temu Bisnis
hanya titik puncak hubungan antara pembeli dan penjual yang sudah berkomunikasi
sebelumnya. Dalam Temu Bisnis biasanya kelompok produsen barang sejenis dan
kelompok pembeli hanya mematangkan berbagai hal yang sudah diinformasikan
(diagendakan) sebelumnya.
Dari aspek peningkatan omset, laba dan perbaikan manajemen usaha Temu
Bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. Sedangkan Dari aspek
penyerapan tenaga kerja bentuk promosi ini kurang ideal, karena tidak banyak
meningkatkan penyerapan tenaga kerja, dan sebaliknya sangat mendorong peningkatan
teknologi produksi. Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak
signifikan. Besarnya peningkatan teknologi dari adanya promosi dalam bentuk Temu
Bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan
dan selera konsumen; b) peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat
meningkatkan investasi; serta c) adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-
pihak lainnya untu menjual produk teknologi yang diproduksi, sehingga bisa terjadi
imbal beli.
Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam
mencapai nilai bobot kelayakan. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek
penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. Kehandalan dari aspek penyerapan tenaga
kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk-produk yang dipromosikan adalah barang-
barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya; b)
Pameran dapat memberikan inspirasi kepada pihak-pihak lain untuk membuat barang-
barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar, serta; c) Pameran
memperkenalkan produk-produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal sehingga
berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (backward effect) dan
industri hilirnya (foreward effect).
Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. Hal ini
dimungkinkan karena dengan ikut dalam pameran: a) produsen dapat berhubungan
langsung dengan konsumen baik dari lingkungan regional, Nasional maupun
Internasional; serta b) Dengan ikut kegiatan pameran akan ada hubungan langsung
antara produsen barang sejenis yang yang secara terorganisir maupun individual akan
dapat membentuk kerjasama dalam pemasaran produk mereka. Sedangkan dari aspek
lainnya peran promosi pemasaran dalam bentuk pameran kurang signifikan. Hal tersebut
terutama dikarenakan: a) keterbatasan ruang lingkup pameran baik dari aspek jenis
produk yang dipamerkan, lokasi pameran dan lama waktu pameran; b) Pameran
mermerlukan biaya yang harus ditanggung oleh UMKM relatif besar sehingga
berdampak terhadap kenaikan biaya produksi, yang secara langsung akan mengurangi
laba yang diperoleh UMKM
Walaupun Misi Dagang memiliki total nilai bobot terendah diantara keempat
jenis promosi pemasaran yang menjadi obyek dalam kajian ini, tetapi Misi dagang
memiliki keungulan spesifik. Keunggulan Misi Dagang ditunjukan dari aspek perbaikan
sistem manajemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. Dampak Misi
Dagang ini dindikasikan dari kenaikan nilai bobot kedua aspek penilaian tersebut
masing-masing 26, 37% dan 28,13%. Perbaikan sistem manajemen mungkin didorong
oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya, sedangkan pengembangan teknologi 10
produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki
adanya peningkatan kuantitas dan kualitas barang yang ingin dibeli.
Secara lebih spesifik keunggulan misi dagang diduga disebabkan oleh beberapa hal
antara lain:
1. Misi Dagang menghasilkan kesepakatan di bidang perdagangan antara dua negara
yang diaplikasikan dalam berbagai bentuk kegiatan perdagangan yang bersifat
terikat pada kontrak. Kontrak perdagangan yang terjadi antara dua negara ini
biasanya dilengkapi dengan target tertentu seperti keseimbangan perdagangan
sehingga berdasarkan pertimbangan permintaan pasar dan penawaran sejumlah
produk oleh negara produsen. Besarnya jumlah produk yang ditawarkan bisa
menyerap semua produk yang dihasilkan atau dalam jumlah tertentu yang biasanya
sebesar surplus pasar dari negara produsen;
2. Misi Dagang juga bukan tidak mungkin dikaitkan dengan bantuan baik berupa
hibah, pinjaman jangka pendek atau pinjaman jangka panjang dari negara produsen
yang berorientasi pada usaha menyerap semua surplus pasar atas komoditas yang
akan dipasarkan oleh negara produsen tersebut;
3. Misi dagang untuk negara berkembang seperti Indonesia sekarang ini juga bisa
diorientasikan pada kepentingan produk barang dari negara mitranya misalnya
kebutuhan senjata yang bisa dibeli dengan menjual sejenis produk yang diminati
oleh negara mitranya seperti imbal beli antara pesawat Sukhoi dengan CPO serta;
4. Misi Dagang juga bukan tidak mungkin dikaitkan dengan, atau berorientasi pada
kepentingan selain faktor ekonomi, sehingga adanya prinsip-prinsip ekonomi bisa
diabaikan. Dari aspek biaya yang dikeluarkan oleh UMKM kegiatan promosi
pemasaran sangat layak dilaksanakan karena, sebagian besar biaya yang dikeluarkan
untuk kegiatan tersebut ditanggung oleh pemerintah, sedangkan rata rata biaya per
Rupiah kenaikan yang dikeluarkan oleh pemerintah juga relatif kecil, dibandingkan
pertambahan omset dan laba UMKM yang diperoleh dari adanya kegiatan tersebut .
Potensi promosi dalam bentuk Misi dagang yang cukup menjanjikan tersebut
dimungkinkan karena: a) Peningkatan permintaan atas produk yang dipromosikan relatif
cukup besar, sehingga kenaikan total omset penjualan dari kelompok UMKM yang
memproduksi barang-barang tersebut juga cukup besar; dan b) harga produk ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara dua negara sesuai dengan rata-rata harga di pasaran
internasional sehingga ada kepastian harga baik untuk produsen maupun konsumen.
Pengembangan teknologi produksi UMKM menjadi lebih baik, hal ini
dimungkinkan karena: a) Pemerintah berkepentingan langsung dengan peningkatan
produksi dan efisiensi atas barang tersebut sehingga proses peningkatan teknologi
mendapat perhatian yang cukup besar; b) Adakalanya negara mitra akan menyediakan
atau membantu penyediaan tekonologi yang diperlukan; serta c) Oleh karena adanya
permintaan pasar yang cukup besar maka akan mendorong produsen (UMKM) untuk
menggunakan teknologi yang lebih baik.
Hasil pengamatan visual di lapangan menunjukkan adanya indikasi bahwa untuk
jenis barang kebutuhan primer seperti pakaian, sepatu tas tangan, suku cadang
kendaraan dan bahan makanan, kegiatan promosi pemasaran dampaknya relatif lebih 11
kecil dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier seperti
furniture perhiasaan dan handycraft.
Unsur penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata positif terhadap
perluasan pangsa pasar UMKM. Hal ini dimungkinkan karena walaupun promosi
merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan pangsa pasar
perusahaan baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, tetapi produsen
harus memperhatikan berbagai aspek promosi antara lain media promosi yang termasuk
di dalamnya unsur penyelenggara. Media promosi yang baik adalah yang dikelola secara
profesional sehingga mampu memberikan informasi produk secara luas dengan biaya
sekecil mungkin.
Dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM, yang paling besar
dampaknya terhadap perluasan pangsa pasar adalah yang diselenggarakan oleh
Pemerintah, terutama dalam bentuk Misi Dagang dan Pameran. Efektifitas kegiatan
promosi ini bersifat internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan biaya
yang relatif murah, ternyata sangat mendukung perluasan pangsa pasar UMKM.
Kehandalan Misi Dagang ditunjukan dengan tingginya jumlah pembeli barang produk
UMKM.
Biaya promosi sering menjadi unsur yang berpengaruh nyata terhadap
keberhasilan perusahaan dalam mengembangkan pangsa pasarnya. Namun demikian
penggunaan biaya promosi yang berlebihan terutama untuk produk tertentu seperti obat-
obatan dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan
tersebut bisa tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam suatu persaingan antara produsen sejenis barang, faktor kualitas barang
akan sama pentingnya, tetapi faktor kondisi keuangan konsumen yang terkait langsung
dengan lokasi promosi, akan menentukan pilihan faktor mana yang akan lebih
diperhatikan. Dari adanya kecenderungan tersebut maka barang-barang sejenis dapat
diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya. Klasifikasi barang sangat bermanfaat dalam
menentukan daerah pemasaran, karena barang dengan kualitas tertentu akan berbeda
permintaannya antara satu daerah dengan daerah lain. Dari pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa untuk memperluas pangsa pasar produk UMKM, juga harus
diperhatikan hubungan antara kualitas barang dengan lokasi promosi.
Perolehan laba suatu perusahaan merupakan fungsi dari efisiensi produksi dan
efisiensi pemasaran. Kondisi internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai
komponen dalam fungsi efisiensi produksi (melalui kualitas SDM dan asset yang
dimiliki). Pengaruh efisiensi fungsi produksi mungkin lebih kecil dari efisiensi fungsi
pemasaran, sehingga keeratan hubungan antara laba dengan kondisi internal UMKM
menjadi tertutup karena kondisi internal UMKM hanyalah bagian dari fungsi produksi.
Jenis barang yang dipromosikan tersebut sebagian adalah barang kebutuhan
primer seperti pakaian, Sepatu tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan makanan.
Sedangkan sebagian lagi merupakan barang kebutuhan sekunder dan tersier berupa
Obat-obatan (jamu) perhiasan dan Handicraft. Untuk kedua kelompok besar barang
tersebut, peran promosi pemasaran akan berbeda. 12
Media promosi yang baik adalah yang yang mampu memberikan informasi
produk secara luas dengan biaya sekecil mungkin. Hasil pengamatan deskriptif di
lapang mengindikasikan bahwa dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM,
yang paling besar dampaknya terhadap perluasan pangsa pasar adalah Misi Dagang.
Kegiatan promosi ini bersifat internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan
biaya yang relatif murah.
Dalam melaksanakan kegiatan promosi perusahaan harus mengetahui peta pasar
berdasarkan pertimbangan jenis produk yang akan dipasarkan, kualitas produk dan
harga produk. Lebih lanjut dikatakan bahwa keperluaan tersebut berkaitan dengan
prediksi permintaaan (demand) atas barang yang diproduksi pada daerah-daerah yang
akan menjadi target pasar perusahaan yang bersangkutan. Pengetahuan tentang daerah
pemasaran juga diperlukan dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan biaya
promosi. Kesalahan penentukan lokasi pasar akan menyebabkan penggunaaan dana
promosi yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam mening-
katkan perolehan laba. Namun demikian waktu promosi yang terlalu sempit disamping
menghemat penggunaan biaya promosi tetapi juga akan mengurangi efektifitas promosi.
Oleh sebab itu pengusaha harus dapat mempertimbangkan panjang waktu promosi yang
paling optimal, karena waktu promosi yang terlalu panjang juga dapat mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa tidak sebanding
dengan prediksi laba yang akan diperoleh.
Jumlah pesaing secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar, omset dan
laba perusahaan. Dalam era persaingan yang harus dilakukan oleh perusahaan
disamping efisiensi produksi dan manajemen adalah promosi yang sesuai. Perusahaan
tidak akan mampu meningkatkan pangsa pasar untuk memperoleh tingkat produksi dan
laba yang lebih besar, tanpa didukung oleh adanya sistem promosi yang efektif dan
efisien.
Kondisi internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam
fungsi efisiensi produksi (melalui kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan
prasarana yang dimiliki. jenis barang yang dipromosikan adalah barang-barang
kebutuhan primer seperti pakaian, Sepatu tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan
makanan. Jenis produk yang dipromosikan memiliki keeratan hubungan dengan luasnya
pangsa pasar yang mungkin diraih oleh UMKM.;
Empat variabel bebas yang berpengaruh nyata yaitu: 1) Kondisi internal UMKM
dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam fungsi efisiensi produksi (melalui
kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan prasarana yang dimiliki). 2) Jenis
produk yang dipromosikan dipasarkan terhadap peningkatan penggunaan teknologi oleh
UMKM nampaknya terkait langsung dengan luasnya pasar dan besarnya permintaan
pasar atas barang yang bersangkutan. Jenis barang yang dipromosikan adalah barang-
barang kebutuhan primer seperti pakaian, sepatu, tas tangan, suku cadang kendaraan dan
bahan makanan. Produksi barang-barang seperti ini dapat dipercepat dengan
menggunakan teknologi yang lebih maju; 3) Pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM
terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut
dalam kegiatan promosi, maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang 13
teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efisien produksi, yang
diperoleh dari berbagai pihak. Dorongan untuk memperbaiki teknologi produksi juga
disebabkan oleh semakin luasnya pasar dan besarnya permintaan pasar atas barang yang
bersangkutan serta : 4) Jumlah pesaing merupakan salah satu unsur yang secara umum
telah diketahui oleh para pengusaha secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar,
omset dan laba perusahaan. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu
perusahaan untuk berproduksi lebih efisien, untuk itu perusahaan yang bersangkutan
akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien.
Hanya ada satu variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan
manajemen usaha yaitu kondisi internal UMKM. bahwa perbaikan manjemen
perusahaan merupakan salah satu faktor yang sangat diperlukan dalam upaya
meningkatkan efisiensi usaha perusahaan yang bersangkutan. Pengembangan indikator
keberhasilan promosi ini dapat terjadi sebagai akibat adanya dorongan dari dalam
perusahaan sendiri maupun dorongan dari luar perusahaan. Dorongan dari dalam
perusahaan timbul karena adanya usaha berupa evaluasi internal maupun kondisi-
kondisi tertentu yang mengharuskan perusahaan untuk memperbaiki manjemen usaha
seperti banyaknya kebocoran sumberdaya dan atau kewajiban-kewajiban yang harus
dipenuhi. Sedangkan dorongan dari luar timbul dari tuntutan persaingan, mempelajari
keberhasilan perusahaan lain dan atau tuntutan para stakeholder seperti perbankan atau
para pemegang saham. Keikutsertaan UMKM dalam promosi mempengaruhi UMKM
yang bersangkutan Untuk memperbaiki manajemen usaha berdasarkan dua faktor yaitu
melihat keberhasilan orang lain dan berusaha meningkatkan efisiensinya untuk mampu
mengatasi masalah persaingan. Kondisi faktor internal yang mendorong perbaikan
manajemen usaha juga dapat dilihat dari dua aspek yaitu ketersedian SDM dan
permodalan UKM.
Terdapat 8 variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan
produksi UMKM yaitu: a) Kondisi internal UMKM. Peningkatan produksi suatu
perusahaan merupakan fungsi dari permintaan dan kondisi internal UMKM Kondisi
internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam fungsi efisiensi
produksi melalui kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan prasarana yang
dimiliki; b) Jenis produk yang dipromosikan adalah barang-barang kebutuhan primer
seperti pakaian, sepatu, tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan makanan; c)
Jumlah pesaing. Faktor ini secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar, omset
dan laba perusahaan. Untuk dapat mengeleminir ketatnya persaingan yang harus
dilakukan oleh perusahaan disamping meningkatkan efisiensi adalah melakukan
promosi yang sesuai. Perusahaan tidak akan mampu meningkatkan pangsa pasar untuk
memperoleh tingkat produksi dan laba yang lebih besar, tanpa didukung oleh adanya
sistem promosi yang efektif; d) Bentuk promosi hendaknya disesuaikan dengan budget
perusahaan yang didasarkan pada perhitungan harga tertinggi dari produk sejenis di
pasaran. Hasil pengamatan deskriptif lebih lanjut mengindikasikan bahwa bentuk
promosi yang paling berpeluang untuk meningkatkan pangsa pasar dari jenis barang
kebutuhan primer yang diproduksi oleh UMKM adalah pameran dan misi dagang; e)
penyelenggara promosi atau media promosi (penyelenggara) akan mempengaruhi
jangkauan promosi dan biaya promosi. Media promosi yang baik adalah yang mampu
memberikan informasi produk secara luas dengan biaya sekecil mungkin. 14
Dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM, yang paling besar dampaknya
terhadap perluasan pangsa pasar adalah Misi Dagang. Kegiatan promosi ini bersifat
internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan biaya yang relatif murah; f)
Biaya promosi menjadi unsur yang berpengaruh nyata terhadap keberhasilan perusahaan
dalam mengembangkan pangsa pasarnya. Namun demikian penggunaan biaya promosi
yang berlebihan terutama untuk produk tertentu seperti obat-obatan dapat
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa
tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam melaksanakan kegiatan promosi perusahaan harus mengetahui peta pasar
berdasarkan pertimbangan jenis produk yang akan dipasarkan, kualitas dan harga
produk. Lebih lanjut dikatakan bahwa keperluaan tersebut berkaitan dengan prediksi
demand atas barang yang diproduksi pada daerah-daerah yang akan menjadi target pasar
perusahaan yang berasangkutan. Pengetahuan tentang daerah pemasaran juga diperlukan
dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan biaya promosi. Kesalahan penentuan
lokasi pasar akan menyebabkan penggunaan dana promosi yang berlebihan yang dapat
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa
tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam suatu persaingan antara kualitas barang biasanya akan lebih diperhatikan
oleh konsumen dibandingkan dengan harga. Dari adanya konsepsi tersebut barang
sejenis dapat diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa
klasifikasi barang sangat bermanfaat dalam menentukan daerah pasar suatu barang
karena barang dengan kualitas tertentu akan berbeda permintaannya antara satu daerah
dengan daerah lain. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk memperluas
pangsa pasar produk UMKM, juga harus diperhatikan hubungan antara kualitas barang
dengan lokasi promosi.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Kegiatan Promosi selama tiga tahun pertama berpengaruh nyata terhadap
peningkatan omset penjualan dan laba, tetapi mulai tahun keempat pengaruh
tersebut kembali menurun. Peningkatkan laba UMKM bersifat kuadratik
terhadap peningkatan omset, karena peningkatan laba bukan hanya disebabkan
oleh omset UMKM tetapi juga karena berkurangnya marjin yang terserap
dalam serta pasar, serta adakalanya juga menurunkan biaya produksi.
2. Promosi pemasaran berdampak nyata positif terhadap kemampuan penyerapan
tenaga kerja. Setelah lima tahun UMKM mengikuti program promosi,
penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 1,28 orang yaitu dari 4,13
menjadi 5,41 orang atau meningkat sebesar 30,99 %.
3. Promosi pemasaran berdampak positif terhadap peningkatan teknologi
produksi UMKM yang diindikasikan dari meningkatnya nilai produksi. Enam
variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan teknologi
produksi adalah: a) Kondisi Internal UMKM; b) Jenis produk yang
dipromosikan; c) Jumlah pesaing; d) Bentuk promosi; e) Penyelenggara
Promosi atau media promosi (penyelenggara); dan f) Biaya promosi 15
4. Promosi pemasaran berdampak positif terhadap pengembangan sistem usaha
UMKM.
5. Nilai bobot dari semua aspek pengamatan terhadap keempat bentuk kegiatan
promosi pemasaran, mengindikasikan bahwa keempat bentuk kegiatan promosi
pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha
menengah, dengan urutan (ranking) nilai bobotnya: 1) Trading Board; 2) Temu
Bisnis; 3) Pameran dan; 4) Misi Dagang.
6. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari Trading Board adalah:
a) Peningkatan omset; b) Peningkatan laba dan; c) Peningkatan penyerapan
tenaga kerja. Keberhasilan tersebut didukung oleh: a) Waktu yang cukup
panjang (lama); b) Biaya promosi yang relatif rendah; serta c) jenis produksi
yang dipromosikan bisa sangat beragam.
7. Trading board berdampak positif pada meningkatnya jumlah pembeli dan
omset yang relatif besar, hal ini karena Trading Board memiliki jangkauan
daerah yang luas. Demikian juga untuk ikut dalam Trading diperlukan biaya
yang besar maka bentuk promosi ini juga layak dilakukan oleh semua UMKM
termasuk para pengusaha mikro.
8. Pameran mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan
jumlah pembeli; Kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dikarenakan;
a) Produk-produk yang dipromosikan adalah barang-barang yang dalam proses
pembuatannya bersifat padat karya; b) Pameran dapat memberikan inspirasi
kepada pihak-pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai
memiliki prospek ekonomi cukup besar, serta; c) Pameran memperkenalkan
produk-produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal sehingga
berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (backward
efect) dan industri hilirnya (foreward efect).
9. Pengaruh faktor variabel bebas terhadap keberhasilan kegiatan promosi
pemasaran adalah: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata
positif terhadap perluasan pangsa pasar UMKM; b) Biaya promosi
berpengaruh nyata terhadap keberhasilan mengembangkan pangsa pasarnya.
Namun demikian penggunaan biaya promosi yang berlebihan terutama untuk
produk tertentu seperti obat-obatan dapat mengakibatkan kerugian bagi
perusahaan; c) Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba
UMKM serta penigkatan kualitas teknologi. Faktor ini juga terkait langsung
dengan lokasi promosi, dan kondisi ekonomi daerah; d) Jenis barang yang
dipromosikan berpengaruh langsung terhadap omset dan laba UMKM; e)
Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan laba
UMKM; f) Penyelenggara berpengaruh nyata terhadap omset dan laba
UMKM; g) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam
meningkatkan perolehan laba; dan h) Jumlah pesaing secara langsung akan
mempengaruhi, pangsa pasar, omset dan laba perusahaan.
10. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efektifitas promosi
adalah: a) perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b)
Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang 16
berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) waktu
penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang
tersebut.

5.2. Saran
1. Untuk mengembangkan Trading Board perlu dilakukan sosialisasi kegunaan
dari program promosi tersebut ke daerah-daerah, sehingga dapat mendorong
pemerintah Daerah untuk membangun Trading Board di banyak tempat.
2. Usaha yang dapat dilakukan untuk memperbesar keikutsertaan UMKM dalam
program promosi adalah: a) memperbanyak program-promosi melalui
kerjasama dengan para stakeholder; b) Memfasilitasi kegiatan promosi ; c)
mendorong UMKM untuk ikut dalam program tersebut, dengan membuktikan
bahwa kegiatan ini akan dapat memberikan manfaat ekonomi; d)
memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta dalam kegiatan promosi; e)
membangun lingkage yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara
dengan semua stakeholder.
3. Untuk mengatasi berbagai masalah peningkatan efektifitas kegiatan promosi
pemasaran diperlukan: a) perencanaan yang terkoordinasi; b) Evaluasi
kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan; c) Perhitungan
waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas
barang tersebut.
4. Trading Board dapat dikembangkan di tingkat propinsi, nasional dan
internasional, misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh
pemerintah. Pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari
kabupaten sampai dengan tingkat internasional, sedangkan temu bisnis perlu
lebih didorong sehingga hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi
juga dapat dilakukan oleh UKM dan Koperasi.
5. Oleh karena usaha mikro belum layak untuk diikutsertakan dalam kegiatan
promosi maka keikutsertaannya dalam kegiatan ini dapat direkomendasikan
secara terbatas dengan subsidi biaya dari pemerintah.

DAFTAR BACAAN
Affandi, (1984). Manajemen Promosi dan Pemasaran Produk. PT. Bina Aksara. Jakarta.
Harry.R. Tosdal, (1969). Introduction to Sales Mangement. Mac Graw Hill Book Company
New York
Kasali Reinald, (2005). Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang
disampaikan dalam Seminar sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan
Dalam Menghadapi Pasar Global). Program Magister Manajemen Universitas
Indonesia. Jakarta.
Manulang, (1984). Marketing. Bharata. Jakarta.
Nurachmat, (2002). Kajian Manfaat Pameran dalam Meningkatkan Omset Industri kecil
(Thesis). Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung. 17
Panglaikim, (1980). Marketing (Suatu Pengantar). P.T. Pembangunan Jakarta.
Ramlan, (2001). Macam-macam Bentuk Promosi yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk
Industri Kecil. P.T. Bina Antar Nusa. Jakarta.
Shaw.A.R, (1967). Some Problem of Market Distribution. Business Review Havard
University of London.
Sujito, (1997). Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran melalui Program Promosi (Studi
kasus kebijakan Perdagangan Internasional). Program Pasca Sarjana Universitas
Gajah Mada.
Wahiddin, (2001). Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. Buletin
Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional.Nama Kelompok : Airin Akte Savira / 20210444
Dessy lestari / 21210848
Juni Erbina Saragih / 23210813
Siti Amanah / 26210579
Yuli Chatrine Castro /28210741
Sumber : http://www.smecda.com/kajian/files/Jurnal_3_2008/01_T.Syarif.pdf

KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK UMKM

Abstrak
Kemampuan un UMKM menghadapi pasar global antara lain karena lemahnya
MSMEin acccessing informasi, terkait dengan tindakan promosi miskin untuk produk UMKM itu.
Promosi bisa dilakukan dengan berbagai upaya seperti eksposisi, kontak bisnis, perdagangan
misi, pusat bisnis, perdagangan rumah dan kegiatan lainnya. Promosi memiliki pengaruh yang nyata
terhadap peningkatan omset penjualan, laba, penyerapan tenaga. Peningkatan
teknologi produksi UMKM dan bisnis manajemen SISTEM UMKM. Dampak dari
kualitas nilai berbagai jenis promosi yang analized berturut-turut adalah:

1) Perdagangan Dewan; 2) Bisnis Mengumpulkan; 3) Pameran; dan 4) Misi Dagang. Beberapa variabel bebas yang memiliki pengaruh nyata pada keberhasilan promosi adalah: Promosi organizer), b) Biaya
promosi; c) Jenis dan kualitas komoditas, dan d) Lokasi atau situs promosi; e) Waktu
promosi; f) Jumlah pesaing komoditas dipromosikan. Beberapa masalah yang sering timbul dan
menurunkan efektivitas promosi adalah: a perencanaan) parsial Sektoral (un-terkoordinasi); b)
Kesesuaian lokasi dan produk yang akan dipromosikan secara khusus yang terkait dengan
permintaan pada komoditas yang akan dipromosikan; c) Pelaksanaan waktu dan characteristis
dari komoditas dan fluktuasi permintaan pada commoditu bersangkutan. untuk mengembangkan
Dewan Perdagangan, perlu sosialisasi manfaat dari program promosi ke
daerah, dan Dewan Perdagangan di banyak tempat.


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ketidakpercayaan terhadap kemampuan usaha mikro kecil dan menengah
(UMKM) dalam menghadapi era globalisasi berorientasi pada mekanisme pasar
bebas memang cukup beralasan, karena keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam
kelompok tersebut. Namun demikian perlu diingat bahwa sejak era penjajahan
UMKM sudah dihadapkan dan ditempa dengan berbagai masalah termasuk dari
aspek pemasaran, tetapi UMKM tetap eksis dalam mendukung pertekonomian
nasional. Ketidakmampuan UMKM untuk menghadapi pasar global mungkin
timbul karena lemahnya akses terhadap informasi. Kelemahan ini dapat
berdampak pada sempitnya peluang pasar dan ketidakpastian harga. Di sini terlihat
bahwa era bisnis global menuntut penguasaan informasi inovasi dan kreatifitas
pelaku usaha, baik dari aspek teknologi maupun kualitas sumberdaya manusia.
Lemahnya kemampuan UMKM dalam mengakses informasi diduga terkait
langsung dengan kondisi faktor internal UMKM yang dibayangi oleh berbagai Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Promosi, Pemasaran Produk UMKM 2
keterbatasan untuk mampu memberikan informasi kepada konsumen. Akibatnya
produk UMKM yang sebenarnya memiliki pangsa pasar yang cukup besar di dunia
internasional, belum banyak diketahui konsumen. Solusi penting yang perlu
dilakukan oleh UMKM untuk mengatasi masalah adalah mengenalkan produk-
produk UKM tersebut melalui kegiatan promosi, yang dapat dilakukan dalam
berbagai bentuk antara lain pameran, temu bisnis, misi dagang, business centre,
iklan layanan masyarakat, trading house dan lain-lain. Kepentingan promosi
produk UMKM juga merupakan salah satu bentuk antisipasi dampak era
globalisasi yang sudah pasti akan berimbas pada pangsa pasar UMKM baik di
dalam maupun di luar negeri.
Dengan memperhatikan kondisi dana dan sumberdaya manusia UMKM,
khususnya usaha mikro dan usaha kecil, kegiatan tersebut agaknya sulit dilakukan
oleh mereka sendiri. Untuk itu pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan
pemberdayaan UMKM (stakeholders), terutama pemerintah harus berpatisipasi
aktif membantu kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. Sebagai
implementasi dari pemikiran tersebut, pemerintah melalui Kementerian Negara
Koperasi dan UKM dan beberapa instansi lainnya telah melaksanakan berbagai
bentuk program promosi. Namun demikian sampai sekarang ini dampak dari
adanya program promosi tersebut belum diketahui dengan pasti, untuk itu
diperlukan adanya kajian yang komprehensif, menyangkut berbagai aspek yang
mempengaruhi keberhasilan program promosi produk UMKM.

1.2. Tujuan Kajian
1). Mengidentifikasi tingkat keberhasilan berbagai bentuk kegiatan promosi
pemasaran baik di dalam maupun di luar negeri terhadap peningkatan pangsa
pasar dan pendapatan UMKM
2). Mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas promosi
produk UMKM.

1.3. Sasaran Kajian
1). Mengetahui pengaruh berbagai kegiatan promosi pemasaran UMKM
terhadap perluasan pangsa produk UMKM dan pendapatan UMKM;
2). Mengidentifikasi faktor-faktor strategis yang mempengaruhi keberhasilan
kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dan;
3). Menetapkan Model dan Pola promosi pemasaran yang paling efektif untuk
mendukung perluasan pangsa pasar produk UMKM.

1.4. Manfaat
1). Didapatkannya gambaran konkrit tentang sejauh mana program promosi
produk UMKM dalam bentuk pameran berdampak positif terhadap pangsa
pasar produk KUKM, yang secara langsung diasumsikan dapat
meningkatkan pendapatan UMKM.
2). Didapatkannya bentuk program promosi pemasaran yang paling efektif untuk
mendukung peningkatan pangsa pasar dan pendapatan UMKM 3
3). Diketahuinya faktor-faktor strategis yang mempengaruhi keberhasilan
kegiatan promosi pemasaran produk UMKM.

II. KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Kerangka Dasar
Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM
adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. Secara konseptual diketahui
bahwa empat unsur yang mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan dalam
berkompetisi adalah a) produk, b) harga, c) tempat/lokasi dan, d) promosi.
Keempat faktor strategis ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran.
Dalam era keterbukaan ini dimana batas-batas ruang sudah mulai ditinggalkan
peran faktor promosi yang terkait dengan ruang yang sangat luas mulai
memperlihatkan pengaruh dominannya. Dominasi faktor promosi diindikasikan
dari luasnya penyebaran suatu jenis produk yang ada kalanya dapat menekan
pengaruh ketiga faktor lainnya.
Untuk memperoleh hasil yang maksimal, promosi harus dilakukan secara
profesional dalam artian pengusaha harus dapat memilih bentuk promosi yang
memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. Untuk kegiatan ini produsen harus
mengeluarkan biaya yang bisa cukup besar, oleh sebab itu sejak awal harus diper-
hitungkan batas kelayakan kegiatan promosi. Beberapa unsur yang harus
dimasukan dalam kalkulus perencanaan promosi adalah ; bentuk promosi, tempat
dan besaran promosi, jenis barang yang akan dipromosikan, peluang pasar,
pesaing, barang substitusi dan kompleter atas barang tersebut, selera konsumen,
trent atau mode dan faktor-faktor eksternal lainnya. Dari beberapa hasil
pengamatan antara lain yang dilakukan oleh Sirait (2002) diketahui bahwa, UKM
yang sering mengikuti kegiatan promosi kebanyakan UKM yang tergolong
mempunyai skala usaha kecil menuju menengah. Dari aspek jenis usaha diketahui
bahwa yang terbanyak adalah UMKM yang bergerak di sektor industri kerajinan.
Umumnya UMKM-UMKM ini belum memahami makna sesungguhnya dari
promosi. Untuk Melakukan promosi secara mandiri diperlukan pengetahuan dan
biaya yang cukup besar, sehingga sulit dilakukan oleh UMKM yang kondisinya
sangat terbatas.

2.2. Kerangka Operasional
Sesuai dengan tujuaan kajian maka analisis diarahkan melihat seberapa
besar dampak dari pelaksanaan pameran terhadap perluasan pasar yang berdampak
pada peningkatan omset UMKM. Secara skematis hubungan antar keterkaitan
faktor penentu, dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran
serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada bagan.

2.3. Variabel Analisis
1) Faktor penentukan (Independent variable) yaitu: a) kondisi internal
UMKM, yang terdiri dari teknologi produksi; b) volume produksi,
keahlian/keterampilan, penanganan dan omset usaha UMKM; c) Jenis produk
yang ingin dipamerkan/pasarkan, yang dibagi dalam tiga bentuk barang yaitu
barang kebutuhan primer, sekunder dan tersier; d) Frekuensi Keikutsertaan
UMKM dalam Pameran; e) Penyelenggaraan promosi; f) Tema promosi; h)
Karakter produk terdiri dari: (1) kualitas barang, (2) keunikan, (3)
Sasaran/target konsumen, dan (4) Target pasar; g) Biaya; i) Lokasi promosi;
j) Lama waktu penyelenggaran; k) Prosedur dan keikutsertaan; l) Jumlah
pesaing dan kondisi persaingan.
2) Dampak keberhasilan pelaksanaan pameran terdiri dari: a) Perluasan Pasar
Produk UMKM; b) Peningkatan teknologi produksi; c) Peningkatan
Kualitas Manajemen dan SDM.


III. RUANG LINGKUP PENELITIAN
3.1 Ruang lingkup substansi kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi
pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM; b)
Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas model-model promosi pemasaran
produk UMKM yang selama ini telah dilaksanakan baik oleh Kementerian Negara
Koperasi dan UKM maupun oleh para pemangku kepentingan (stakeholders)
lainnya; c) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas
program promosi pemasaran produk UMKM
3.2 Ruang Lingkup Lokasi
Kajian ini akan dilaksanakan di lima propinsi contoh yaitu: Jawa Tengah, D.I.
Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan NTB,

IV. METODE PENELITIAN
4.1. Data dan Metoda Pengumpulan Data
Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda
survey terbatas. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari
responden sample yang ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan
acak terbatas (purposive random sampling), serta data sekunder yang akan
dikumpulkan dari instansi terkait dan perpustakaan.
4.2. Metode Analisis
Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan maka penelitian ini
menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis
kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi
ideal dan kondisi riil di lapang, pendapat-pendapat dari berbagai unsur yang
terlibat dalam pelaksanaan program promosi UKMK dan dari studi pustaka.
1) Analisis kuantitatif akan menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan
matematik antara lain: analisa ekonomi sederhana berupa Model Analisa Biaya
Manfaat (benefid cost ratio), yang ditujukan untuk menentukan kelayakan
keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan pameran.
2) Regresi linier berganda (multy variete analysis) untuk menentukan ada
tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent variable terhadap
dependent variable.

V. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS
Ada empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh rata-rata
UMKM yaitu Pameran, Trading Board, Misi/Kontak Dagang dan Temu Bisnis,
Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (29 kali) diikuti UMKM.
Selama lima tahun terakhir dengan peserta 1.082 orang. Sedangkan Trading Board
sebanyak sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta, Misi Dagang dan
Kontak dagang, dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73
orang. Temu Bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh
UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang. Bentuk promosi yang terakhir ini
memang lebih banyak diprakarsai dan diikuti oleh kalangan pengusaha menengah.
Omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran 6
mencapai Rp 46,1 juta per UKM. Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah
dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119,8 juta menjadi Rp 158,2 juta, atau
meningkat sebesar Rp 33,6 juta per tahun (28,04%)
Rendahnya jumlah UMKM yang ikut kegiatan promosi terutama dipengaruhi
oleh bentuk dan lama waktu pelaksanaan promosi. Bentuk promosi yang banyak
menyerap peserta adalah pameran, diikuti dengan Trading Board, sedangkan Temu
Bisnis merupakan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta. Usaha
yang dapat dilakukan untuk memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program
promosi adalah: a) memperbanyak program-promosi melalui kerjasama dengan para
stakeholders; b) Memfasilitasi kegiatan promosi; c) mendorong UMKM untuk ikut
dalam program tersebut, dengan membuktikan bahwa kegiatan ini akan memberikan
manfaat ekonomi; d) memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta dalam kegiatan
promosi; e) membangun lingkage yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara
UMKM dengan semua stakeholder lainnya; serta f) untuk melaksanakan promosi dalam
skala yang lebih besar produsen dari suatu daerah produksi, dapat melaksanakannya
secara terkoordinasi.
Ada indiksi bahwa promosi pemasaran bukan kurang diminati oleh kalangan
UMKM, melainkan umumnya karena mereka tidak mampu membayar biaya kegiatan
tersebut. Besar biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan.
Komponen biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan promosi di luar modal kerja adalah:
a) sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) biaya pengepakan; d) biaya pengangkutan dan
biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran). Relatif mahalnya
biaya promosi, menyebabkan sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro dan
kecil, tidak mampu untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Keikutsertaan pengusaha mikro
memang belum diperlukan karena: a) skala usaha kelompok ini relatif sangat kecil
menjadi tidak layak dan b) barang-baran yang diproduksi juga sebagian besar menjadi
konsumsi lokal.
Adanya kecenderungan UMKM menilai keberhasilan kegiatan promosi
pameran, hanya dari sisi pembelian langsung adalah kurang ideal karena keberhasilan
pameran ditunjukkan dari keberhasilan pengembangan permintaan yang berdampak
pada peningkatan produksi, nilai jual (omset). Penilaian dampak promosi pemasaran
secara agregatif (pembelian sewaktu pameran), dapat menyebabkan sebagian UMKM
enggan untuk ikut dalam kegiatan promosi. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya
minat UMKM mengikuti promosi adalah minimnya sosialisasi, bahkan ada
kecenderungan sebagian besar UMKM tidak mengetahui adanya kegiatan promosi
pemasaran yang dilaksanakan oleh stakeholder.
Walupun promosi dalam bentuk Trading Board nampaknya sangat prospektif
untuk dikembangkan karena tidak banyak menyita sumberdaya UMKM, tetapi bentuk
promosi ini sulit dikembangkan karena memerlukan prasana dan sarana yang lebih
banyak. Untuk mengembangkan Trading Board disarankan agar pemerintah mendorong
stakeholders lainnya terutama Pemerintah Daerah.
Misi dagang/Kontak Dagang berdampak positif terhadap peningkatan jumlah
pembeli yang jauh lebih besar dibandingkan pameran dan bentuk bentuk lainnya.
Besarnya dampak misi dagang dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk 7
dalam jumlah yang relatif besar dan untuk jangka waktu panjang. Adanya kontrak
tersebut juga telah memberikan kepastian harga dan pasar bagi UMKM. Misi Dagang
atau Kontak Dagang hanya diminati oleh pembeli (buyers) barang kebutuhan primer dan
sekunder saja. Keengganan pembeli untuk melakukan kontrak barang kebutuhan tersier
disebabkan sering terjadinya perubahan selera konsumen. Misi dagang biasanya
dikaitkan dengan hubungan bilateral antara dua negara, terutama berkaitan dengan
masalah keseimbangan nilai eksport. Faktor lain yang sering dikaitkan dalam Misi
Dagang adalah hubungan ekonomi politik antara dua negara, maka kegiatan ini biasanya
diprakarsai dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah.
Dampak Temu Bisnis terhadap jumlah pembeli hanya 10,8% tetapi umumnya
pembeli adalah importir yang membeli dalam partai besar maka omset bisa meningkat
sebesar 28,15 %. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu ; a) harga pembelian
menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan;
b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual .
Trading board berdampak pada meningkatnya jumlah pembeli dan omset yang
relatif besar, hal ini dikarenakan Tarding Board umumnya memiliki jangkauan daerah
yang luas. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa: a) Trading Board sangat efektif
baik dalam meningkatkan jumlah pembeli maupun omset UMKM; b) Trading Board
tidak banyak memperbaiki harga jual, tetapi sudah memberikan kepastian pasar dan
kepastian harga yang sangat dibutuhkan oleh kalangan UMKM.
Waktu mempengaruhi dampak promosi. Pada tahun pertama dilakukannya
promosi pertambahan jumlah pembeli cukup besar dan mencapai puncaknya. pada tahun
ke dua atau ke tiga. Seiring dengan pertambahan waktu jumlah pembeli akan semakin
berkurang. Pada umumnya pada tahun ke lima jumlah pembeli sudah menurun dan
sampai lagi ke titik awal (sebelum dilakukannya kegiatan promosi) bahkan lebih rendah
lagi.
Rata-rata laba UMKM meningkat dari Rp 74,72 juta menjadi Rp 97,19 juta atau
sebesar Rp 22,47 juta (30,07 % dari laba sebelumnya). Peningkatan laba juga ternyata
bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM yang linier dengan
peningkatan omset UMKM, tetapi karena berkurangnya biaya produksi dan pemasaran
dan atau menambah omset UMK. Diindikasikan dari pertambahan laba UMKM yang
tidak linier dengan pertambahan omset mungkin dikarenakan rantai pemasaran menjadi
lebih pendek, sehingga margin yang selama ini banyak terserap dalam rantai pemasaran
terakumulasi menjadi nilai tambah bagi UMKM
Kegiatan promosi pemasaran juga berdampak nyata positif terhadap kemampuan
penyerapan tenaga kerja. Setelah lima tahun UMKM mengikuti program promosi,
penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 1,28 orang yaitu dari 4,13 menjadi 5,41
orang atau meningkat sebesar 30,99 %. Demikian juga Promosi pemasaran berdampak
positif terhadap peningkatan teknologi produksi UMKM. Nilai skors dampak promosi
terhadap pengembangan teknologi produksi menunjukan adanya peningkatan yaitu dari
1,96 sebelum promosi atau termasuk dalam katagori kurang, menjadi 2,33 atau termasuk
dalam katagori sedang. Beberapa kendala yang diduga mempengaruhi kemampuan
pengembangan teknologi produksi UMKM antara lain: a) kesulitan dalam mendapatkan
dana pinjaman untuk pembelian sarana usaha yang berteknologi lebih tinggi; b) adanya 8
aturan perundang-undangan yang menyebabkan kesulitan dalam pengadaan sarana
berteknologi seperti UU Perpajakan yang menetapkan pajak cukup tinggi untuk impor
barang-barang modal, UU penanaman modal belum memberikan kesempatan yang lebih
luas kepada investor asing untuk membangun mitra dengan UMKM; c) Kesulitan untuk
mendapatkan SDM yang berkemampuan untuk menggunakan teknologi maju dan atau
pengembangan SDM serta; d) Kurangnya dukungan dari stakeholders terutama baik di
tingkat kabupaten, tingkat propinsi maupun di tingkat pusat.
Promosi pemasaran juga berdampak positif terhadap pengembangan sistem
manajemen yang diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem
manajemen usaha UMKM. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sistem
manajemen usaha antara lain: a) masih rendahnya pengetahuan UMKM tentang peran
manajemen perusahaan; b) Sistem manajemen modern masih dianggap sebagai suatu
keterbukaan dalam usaha yang akan berdampak pada masuknya orang lain di bidang
yang dilakukan; c) Masuknya orang lain dalam sistem manajemen usaha mereka akan
menutup peluang kerja keluarga.
Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek
finansial UMKM. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan
oleh kondisi usaha UMKM sendiri, terutama laba dan omset. Secara agregat semua
Usaha kecil dan Menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi karena B/C ratio-
nya rata-rata mencapai 2,15. Hasil pengujian nilai bobot dari semua aspek pengamatan
terhadap keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran, mengindikasikan bahwa
sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil
dan pengusaha menengah urutan (Ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut:

Ranking Pertama adalah Trading Board dengan nilai bobot 227,19
Ranking Kedua adalah Temu Bisnis, dengan nilai bobot 184,14
Ranking ke tiga adalah Pameran dengan nilai bobot 180,36
Ranking ke empat adalah Misi Dagang dengan nilai bobot 157,61

Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari Trading Board adalah: a)
Peningkatan omset dengan nilai bobot 227,19; b) Peningkatan laba dengan nilai bobot
mencapai 58,90; dan c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja. Keberhasilan Trading
Board dalam mendukung kemampuan UMKM untuk mengembangkan akses
pemasarannya diduga disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Waktu promosi yang
cukup panjang (lama); b) Biaya promosi yang relatif rendah; serta c) jenis produksi
yang dipromosikan bisa sangat beragam.
Walaupun nilai bobot keberhasilan promosi dalam bentuk Temu Bisnis tidak ada
satupun yang menduduki urutan pertama, tetapi keberhasil bentuk promosi ini sangat
merata dari segala aspek penilaian. Dari beberapa indikator keberhasilan, hanya ada satu
faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. Rendahnya
kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan,
karena, Temu Bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan
omset penjualan. Temu Bisnis berbeda dengan bentuk-bentuk promosi lainnya karena
dalam Temu Bisnis, calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi tentang
produk-produk yang akan ditawarkan mulai dari jenis barang, kualitas barang, jumlah 9
barang serta pola kerjasama atau kemitraan. Dengan kata lain kegiatan Temu Bisnis
hanya titik puncak hubungan antara pembeli dan penjual yang sudah berkomunikasi
sebelumnya. Dalam Temu Bisnis biasanya kelompok produsen barang sejenis dan
kelompok pembeli hanya mematangkan berbagai hal yang sudah diinformasikan
(diagendakan) sebelumnya.
Dari aspek peningkatan omset, laba dan perbaikan manajemen usaha Temu
Bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. Sedangkan Dari aspek
penyerapan tenaga kerja bentuk promosi ini kurang ideal, karena tidak banyak
meningkatkan penyerapan tenaga kerja, dan sebaliknya sangat mendorong peningkatan
teknologi produksi. Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak
signifikan. Besarnya peningkatan teknologi dari adanya promosi dalam bentuk Temu
Bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan
dan selera konsumen; b) peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat
meningkatkan investasi; serta c) adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-
pihak lainnya untu menjual produk teknologi yang diproduksi, sehingga bisa terjadi
imbal beli.
Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam
mencapai nilai bobot kelayakan. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek
penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. Kehandalan dari aspek penyerapan tenaga
kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk-produk yang dipromosikan adalah barang-
barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya; b)
Pameran dapat memberikan inspirasi kepada pihak-pihak lain untuk membuat barang-
barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar, serta; c) Pameran
memperkenalkan produk-produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal sehingga
berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (backward effect) dan
industri hilirnya (foreward effect).
Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. Hal ini
dimungkinkan karena dengan ikut dalam pameran: a) produsen dapat berhubungan
langsung dengan konsumen baik dari lingkungan regional, Nasional maupun
Internasional; serta b) Dengan ikut kegiatan pameran akan ada hubungan langsung
antara produsen barang sejenis yang yang secara terorganisir maupun individual akan
dapat membentuk kerjasama dalam pemasaran produk mereka. Sedangkan dari aspek
lainnya peran promosi pemasaran dalam bentuk pameran kurang signifikan. Hal tersebut
terutama dikarenakan: a) keterbatasan ruang lingkup pameran baik dari aspek jenis
produk yang dipamerkan, lokasi pameran dan lama waktu pameran; b) Pameran
mermerlukan biaya yang harus ditanggung oleh UMKM relatif besar sehingga
berdampak terhadap kenaikan biaya produksi, yang secara langsung akan mengurangi
laba yang diperoleh UMKM
Walaupun Misi Dagang memiliki total nilai bobot terendah diantara keempat
jenis promosi pemasaran yang menjadi obyek dalam kajian ini, tetapi Misi dagang
memiliki keungulan spesifik. Keunggulan Misi Dagang ditunjukan dari aspek perbaikan
sistem manajemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. Dampak Misi
Dagang ini dindikasikan dari kenaikan nilai bobot kedua aspek penilaian tersebut
masing-masing 26, 37% dan 28,13%. Perbaikan sistem manajemen mungkin didorong
oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya, sedangkan pengembangan teknologi 10
produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki
adanya peningkatan kuantitas dan kualitas barang yang ingin dibeli.
Secara lebih spesifik keunggulan misi dagang diduga disebabkan oleh beberapa hal
antara lain:
1. Misi Dagang menghasilkan kesepakatan di bidang perdagangan antara dua negara
yang diaplikasikan dalam berbagai bentuk kegiatan perdagangan yang bersifat
terikat pada kontrak. Kontrak perdagangan yang terjadi antara dua negara ini
biasanya dilengkapi dengan target tertentu seperti keseimbangan perdagangan
sehingga berdasarkan pertimbangan permintaan pasar dan penawaran sejumlah
produk oleh negara produsen. Besarnya jumlah produk yang ditawarkan bisa
menyerap semua produk yang dihasilkan atau dalam jumlah tertentu yang biasanya
sebesar surplus pasar dari negara produsen;
2. Misi Dagang juga bukan tidak mungkin dikaitkan dengan bantuan baik berupa
hibah, pinjaman jangka pendek atau pinjaman jangka panjang dari negara produsen
yang berorientasi pada usaha menyerap semua surplus pasar atas komoditas yang
akan dipasarkan oleh negara produsen tersebut;
3. Misi dagang untuk negara berkembang seperti Indonesia sekarang ini juga bisa
diorientasikan pada kepentingan produk barang dari negara mitranya misalnya
kebutuhan senjata yang bisa dibeli dengan menjual sejenis produk yang diminati
oleh negara mitranya seperti imbal beli antara pesawat Sukhoi dengan CPO serta;
4. Misi Dagang juga bukan tidak mungkin dikaitkan dengan, atau berorientasi pada
kepentingan selain faktor ekonomi, sehingga adanya prinsip-prinsip ekonomi bisa
diabaikan. Dari aspek biaya yang dikeluarkan oleh UMKM kegiatan promosi
pemasaran sangat layak dilaksanakan karena, sebagian besar biaya yang dikeluarkan
untuk kegiatan tersebut ditanggung oleh pemerintah, sedangkan rata rata biaya per
Rupiah kenaikan yang dikeluarkan oleh pemerintah juga relatif kecil, dibandingkan
pertambahan omset dan laba UMKM yang diperoleh dari adanya kegiatan tersebut .
Potensi promosi dalam bentuk Misi dagang yang cukup menjanjikan tersebut
dimungkinkan karena: a) Peningkatan permintaan atas produk yang dipromosikan relatif
cukup besar, sehingga kenaikan total omset penjualan dari kelompok UMKM yang
memproduksi barang-barang tersebut juga cukup besar; dan b) harga produk ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara dua negara sesuai dengan rata-rata harga di pasaran
internasional sehingga ada kepastian harga baik untuk produsen maupun konsumen.
Pengembangan teknologi produksi UMKM menjadi lebih baik, hal ini
dimungkinkan karena: a) Pemerintah berkepentingan langsung dengan peningkatan
produksi dan efisiensi atas barang tersebut sehingga proses peningkatan teknologi
mendapat perhatian yang cukup besar; b) Adakalanya negara mitra akan menyediakan
atau membantu penyediaan tekonologi yang diperlukan; serta c) Oleh karena adanya
permintaan pasar yang cukup besar maka akan mendorong produsen (UMKM) untuk
menggunakan teknologi yang lebih baik.
Hasil pengamatan visual di lapangan menunjukkan adanya indikasi bahwa untuk
jenis barang kebutuhan primer seperti pakaian, sepatu tas tangan, suku cadang
kendaraan dan bahan makanan, kegiatan promosi pemasaran dampaknya relatif lebih 11
kecil dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier seperti
furniture perhiasaan dan handycraft.
Unsur penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata positif terhadap
perluasan pangsa pasar UMKM. Hal ini dimungkinkan karena walaupun promosi
merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan pangsa pasar
perusahaan baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, tetapi produsen
harus memperhatikan berbagai aspek promosi antara lain media promosi yang termasuk
di dalamnya unsur penyelenggara. Media promosi yang baik adalah yang dikelola secara
profesional sehingga mampu memberikan informasi produk secara luas dengan biaya
sekecil mungkin.
Dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM, yang paling besar
dampaknya terhadap perluasan pangsa pasar adalah yang diselenggarakan oleh
Pemerintah, terutama dalam bentuk Misi Dagang dan Pameran. Efektifitas kegiatan
promosi ini bersifat internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan biaya
yang relatif murah, ternyata sangat mendukung perluasan pangsa pasar UMKM.
Kehandalan Misi Dagang ditunjukan dengan tingginya jumlah pembeli barang produk
UMKM.
Biaya promosi sering menjadi unsur yang berpengaruh nyata terhadap
keberhasilan perusahaan dalam mengembangkan pangsa pasarnya. Namun demikian
penggunaan biaya promosi yang berlebihan terutama untuk produk tertentu seperti obat-
obatan dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan
tersebut bisa tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam suatu persaingan antara produsen sejenis barang, faktor kualitas barang
akan sama pentingnya, tetapi faktor kondisi keuangan konsumen yang terkait langsung
dengan lokasi promosi, akan menentukan pilihan faktor mana yang akan lebih
diperhatikan. Dari adanya kecenderungan tersebut maka barang-barang sejenis dapat
diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya. Klasifikasi barang sangat bermanfaat dalam
menentukan daerah pemasaran, karena barang dengan kualitas tertentu akan berbeda
permintaannya antara satu daerah dengan daerah lain. Dari pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa untuk memperluas pangsa pasar produk UMKM, juga harus
diperhatikan hubungan antara kualitas barang dengan lokasi promosi.
Perolehan laba suatu perusahaan merupakan fungsi dari efisiensi produksi dan
efisiensi pemasaran. Kondisi internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai
komponen dalam fungsi efisiensi produksi (melalui kualitas SDM dan asset yang
dimiliki). Pengaruh efisiensi fungsi produksi mungkin lebih kecil dari efisiensi fungsi
pemasaran, sehingga keeratan hubungan antara laba dengan kondisi internal UMKM
menjadi tertutup karena kondisi internal UMKM hanyalah bagian dari fungsi produksi.
Jenis barang yang dipromosikan tersebut sebagian adalah barang kebutuhan
primer seperti pakaian, Sepatu tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan makanan.
Sedangkan sebagian lagi merupakan barang kebutuhan sekunder dan tersier berupa
Obat-obatan (jamu) perhiasan dan Handicraft. Untuk kedua kelompok besar barang
tersebut, peran promosi pemasaran akan berbeda. 12
Media promosi yang baik adalah yang yang mampu memberikan informasi
produk secara luas dengan biaya sekecil mungkin. Hasil pengamatan deskriptif di
lapang mengindikasikan bahwa dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM,
yang paling besar dampaknya terhadap perluasan pangsa pasar adalah Misi Dagang.
Kegiatan promosi ini bersifat internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan
biaya yang relatif murah.
Dalam melaksanakan kegiatan promosi perusahaan harus mengetahui peta pasar
berdasarkan pertimbangan jenis produk yang akan dipasarkan, kualitas produk dan
harga produk. Lebih lanjut dikatakan bahwa keperluaan tersebut berkaitan dengan
prediksi permintaaan (demand) atas barang yang diproduksi pada daerah-daerah yang
akan menjadi target pasar perusahaan yang bersangkutan. Pengetahuan tentang daerah
pemasaran juga diperlukan dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan biaya
promosi. Kesalahan penentukan lokasi pasar akan menyebabkan penggunaaan dana
promosi yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam mening-
katkan perolehan laba. Namun demikian waktu promosi yang terlalu sempit disamping
menghemat penggunaan biaya promosi tetapi juga akan mengurangi efektifitas promosi.
Oleh sebab itu pengusaha harus dapat mempertimbangkan panjang waktu promosi yang
paling optimal, karena waktu promosi yang terlalu panjang juga dapat mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa tidak sebanding
dengan prediksi laba yang akan diperoleh.
Jumlah pesaing secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar, omset dan
laba perusahaan. Dalam era persaingan yang harus dilakukan oleh perusahaan
disamping efisiensi produksi dan manajemen adalah promosi yang sesuai. Perusahaan
tidak akan mampu meningkatkan pangsa pasar untuk memperoleh tingkat produksi dan
laba yang lebih besar, tanpa didukung oleh adanya sistem promosi yang efektif dan
efisien.
Kondisi internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam
fungsi efisiensi produksi (melalui kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan
prasarana yang dimiliki. jenis barang yang dipromosikan adalah barang-barang
kebutuhan primer seperti pakaian, Sepatu tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan
makanan. Jenis produk yang dipromosikan memiliki keeratan hubungan dengan luasnya
pangsa pasar yang mungkin diraih oleh UMKM.;
Empat variabel bebas yang berpengaruh nyata yaitu: 1) Kondisi internal UMKM
dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam fungsi efisiensi produksi (melalui
kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan prasarana yang dimiliki). 2) Jenis
produk yang dipromosikan dipasarkan terhadap peningkatan penggunaan teknologi oleh
UMKM nampaknya terkait langsung dengan luasnya pasar dan besarnya permintaan
pasar atas barang yang bersangkutan. Jenis barang yang dipromosikan adalah barang-
barang kebutuhan primer seperti pakaian, sepatu, tas tangan, suku cadang kendaraan dan
bahan makanan. Produksi barang-barang seperti ini dapat dipercepat dengan
menggunakan teknologi yang lebih maju; 3) Pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM
terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut
dalam kegiatan promosi, maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang 13
teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efisien produksi, yang
diperoleh dari berbagai pihak. Dorongan untuk memperbaiki teknologi produksi juga
disebabkan oleh semakin luasnya pasar dan besarnya permintaan pasar atas barang yang
bersangkutan serta : 4) Jumlah pesaing merupakan salah satu unsur yang secara umum
telah diketahui oleh para pengusaha secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar,
omset dan laba perusahaan. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu
perusahaan untuk berproduksi lebih efisien, untuk itu perusahaan yang bersangkutan
akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien.
Hanya ada satu variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan
manajemen usaha yaitu kondisi internal UMKM. bahwa perbaikan manjemen
perusahaan merupakan salah satu faktor yang sangat diperlukan dalam upaya
meningkatkan efisiensi usaha perusahaan yang bersangkutan. Pengembangan indikator
keberhasilan promosi ini dapat terjadi sebagai akibat adanya dorongan dari dalam
perusahaan sendiri maupun dorongan dari luar perusahaan. Dorongan dari dalam
perusahaan timbul karena adanya usaha berupa evaluasi internal maupun kondisi-
kondisi tertentu yang mengharuskan perusahaan untuk memperbaiki manjemen usaha
seperti banyaknya kebocoran sumberdaya dan atau kewajiban-kewajiban yang harus
dipenuhi. Sedangkan dorongan dari luar timbul dari tuntutan persaingan, mempelajari
keberhasilan perusahaan lain dan atau tuntutan para stakeholder seperti perbankan atau
para pemegang saham. Keikutsertaan UMKM dalam promosi mempengaruhi UMKM
yang bersangkutan Untuk memperbaiki manajemen usaha berdasarkan dua faktor yaitu
melihat keberhasilan orang lain dan berusaha meningkatkan efisiensinya untuk mampu
mengatasi masalah persaingan. Kondisi faktor internal yang mendorong perbaikan
manajemen usaha juga dapat dilihat dari dua aspek yaitu ketersedian SDM dan
permodalan UKM.
Terdapat 8 variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan
produksi UMKM yaitu: a) Kondisi internal UMKM. Peningkatan produksi suatu
perusahaan merupakan fungsi dari permintaan dan kondisi internal UMKM Kondisi
internal UMKM dalam hal ini lebih berperan sebagai komponen dalam fungsi efisiensi
produksi melalui kualitas dan kuantitas SDM, modal kerja sarana dan prasarana yang
dimiliki; b) Jenis produk yang dipromosikan adalah barang-barang kebutuhan primer
seperti pakaian, sepatu, tas tangan, suku cadang kendaraan dan bahan makanan; c)
Jumlah pesaing. Faktor ini secara langsung akan mempengaruhi, pangsa pasar, omset
dan laba perusahaan. Untuk dapat mengeleminir ketatnya persaingan yang harus
dilakukan oleh perusahaan disamping meningkatkan efisiensi adalah melakukan
promosi yang sesuai. Perusahaan tidak akan mampu meningkatkan pangsa pasar untuk
memperoleh tingkat produksi dan laba yang lebih besar, tanpa didukung oleh adanya
sistem promosi yang efektif; d) Bentuk promosi hendaknya disesuaikan dengan budget
perusahaan yang didasarkan pada perhitungan harga tertinggi dari produk sejenis di
pasaran. Hasil pengamatan deskriptif lebih lanjut mengindikasikan bahwa bentuk
promosi yang paling berpeluang untuk meningkatkan pangsa pasar dari jenis barang
kebutuhan primer yang diproduksi oleh UMKM adalah pameran dan misi dagang; e)
penyelenggara promosi atau media promosi (penyelenggara) akan mempengaruhi
jangkauan promosi dan biaya promosi. Media promosi yang baik adalah yang mampu
memberikan informasi produk secara luas dengan biaya sekecil mungkin. 14
Dari berbagai bentuk promosi yang diikuti oleh UMKM, yang paling besar dampaknya
terhadap perluasan pangsa pasar adalah Misi Dagang. Kegiatan promosi ini bersifat
internasional dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan biaya yang relatif murah; f)
Biaya promosi menjadi unsur yang berpengaruh nyata terhadap keberhasilan perusahaan
dalam mengembangkan pangsa pasarnya. Namun demikian penggunaan biaya promosi
yang berlebihan terutama untuk produk tertentu seperti obat-obatan dapat
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa
tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam melaksanakan kegiatan promosi perusahaan harus mengetahui peta pasar
berdasarkan pertimbangan jenis produk yang akan dipasarkan, kualitas dan harga
produk. Lebih lanjut dikatakan bahwa keperluaan tersebut berkaitan dengan prediksi
demand atas barang yang diproduksi pada daerah-daerah yang akan menjadi target pasar
perusahaan yang berasangkutan. Pengetahuan tentang daerah pemasaran juga diperlukan
dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan biaya promosi. Kesalahan penentuan
lokasi pasar akan menyebabkan penggunaan dana promosi yang berlebihan yang dapat
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan tersebut bisa
tidak sebanding dengan perluasan pangsa pasar yang diperoleh.
Dalam suatu persaingan antara kualitas barang biasanya akan lebih diperhatikan
oleh konsumen dibandingkan dengan harga. Dari adanya konsepsi tersebut barang
sejenis dapat diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa
klasifikasi barang sangat bermanfaat dalam menentukan daerah pasar suatu barang
karena barang dengan kualitas tertentu akan berbeda permintaannya antara satu daerah
dengan daerah lain. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk memperluas
pangsa pasar produk UMKM, juga harus diperhatikan hubungan antara kualitas barang
dengan lokasi promosi.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Kegiatan Promosi selama tiga tahun pertama berpengaruh nyata terhadap
peningkatan omset penjualan dan laba, tetapi mulai tahun keempat pengaruh
tersebut kembali menurun. Peningkatkan laba UMKM bersifat kuadratik
terhadap peningkatan omset, karena peningkatan laba bukan hanya disebabkan
oleh omset UMKM tetapi juga karena berkurangnya marjin yang terserap
dalam serta pasar, serta adakalanya juga menurunkan biaya produksi.
2. Promosi pemasaran berdampak nyata positif terhadap kemampuan penyerapan
tenaga kerja. Setelah lima tahun UMKM mengikuti program promosi,
penyerapan tenaga kerja bertambah sebanyak 1,28 orang yaitu dari 4,13
menjadi 5,41 orang atau meningkat sebesar 30,99 %.
3. Promosi pemasaran berdampak positif terhadap peningkatan teknologi
produksi UMKM yang diindikasikan dari meningkatnya nilai produksi. Enam
variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan teknologi
produksi adalah: a) Kondisi Internal UMKM; b) Jenis produk yang
dipromosikan; c) Jumlah pesaing; d) Bentuk promosi; e) Penyelenggara
Promosi atau media promosi (penyelenggara); dan f) Biaya promosi 15
4. Promosi pemasaran berdampak positif terhadap pengembangan sistem usaha
UMKM.
5. Nilai bobot dari semua aspek pengamatan terhadap keempat bentuk kegiatan
promosi pemasaran, mengindikasikan bahwa keempat bentuk kegiatan promosi
pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha
menengah, dengan urutan (ranking) nilai bobotnya: 1) Trading Board; 2) Temu
Bisnis; 3) Pameran dan; 4) Misi Dagang.
6. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari Trading Board adalah:
a) Peningkatan omset; b) Peningkatan laba dan; c) Peningkatan penyerapan
tenaga kerja. Keberhasilan tersebut didukung oleh: a) Waktu yang cukup
panjang (lama); b) Biaya promosi yang relatif rendah; serta c) jenis produksi
yang dipromosikan bisa sangat beragam.
7. Trading board berdampak positif pada meningkatnya jumlah pembeli dan
omset yang relatif besar, hal ini karena Trading Board memiliki jangkauan
daerah yang luas. Demikian juga untuk ikut dalam Trading diperlukan biaya
yang besar maka bentuk promosi ini juga layak dilakukan oleh semua UMKM
termasuk para pengusaha mikro.
8. Pameran mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan
jumlah pembeli; Kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dikarenakan;
a) Produk-produk yang dipromosikan adalah barang-barang yang dalam proses
pembuatannya bersifat padat karya; b) Pameran dapat memberikan inspirasi
kepada pihak-pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai
memiliki prospek ekonomi cukup besar, serta; c) Pameran memperkenalkan
produk-produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal sehingga
berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (backward
efect) dan industri hilirnya (foreward efect).
9. Pengaruh faktor variabel bebas terhadap keberhasilan kegiatan promosi
pemasaran adalah: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata
positif terhadap perluasan pangsa pasar UMKM; b) Biaya promosi
berpengaruh nyata terhadap keberhasilan mengembangkan pangsa pasarnya.
Namun demikian penggunaan biaya promosi yang berlebihan terutama untuk
produk tertentu seperti obat-obatan dapat mengakibatkan kerugian bagi
perusahaan; c) Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba
UMKM serta penigkatan kualitas teknologi. Faktor ini juga terkait langsung
dengan lokasi promosi, dan kondisi ekonomi daerah; d) Jenis barang yang
dipromosikan berpengaruh langsung terhadap omset dan laba UMKM; e)
Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan laba
UMKM; f) Penyelenggara berpengaruh nyata terhadap omset dan laba
UMKM; g) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam
meningkatkan perolehan laba; dan h) Jumlah pesaing secara langsung akan
mempengaruhi, pangsa pasar, omset dan laba perusahaan.
10. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efektifitas promosi
adalah: a) perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b)
Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang 16
berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) waktu
penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang
tersebut.

5.2. Saran
1. Untuk mengembangkan Trading Board perlu dilakukan sosialisasi kegunaan
dari program promosi tersebut ke daerah-daerah, sehingga dapat mendorong
pemerintah Daerah untuk membangun Trading Board di banyak tempat.
2. Usaha yang dapat dilakukan untuk memperbesar keikutsertaan UMKM dalam
program promosi adalah: a) memperbanyak program-promosi melalui
kerjasama dengan para stakeholder; b) Memfasilitasi kegiatan promosi ; c)
mendorong UMKM untuk ikut dalam program tersebut, dengan membuktikan
bahwa kegiatan ini akan dapat memberikan manfaat ekonomi; d)
memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta dalam kegiatan promosi; e)
membangun lingkage yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara
dengan semua stakeholder.
3. Untuk mengatasi berbagai masalah peningkatan efektifitas kegiatan promosi
pemasaran diperlukan: a) perencanaan yang terkoordinasi; b) Evaluasi
kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan; c) Perhitungan
waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas
barang tersebut.
4. Trading Board dapat dikembangkan di tingkat propinsi, nasional dan
internasional, misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh
pemerintah. Pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari
kabupaten sampai dengan tingkat internasional, sedangkan temu bisnis perlu
lebih didorong sehingga hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi
juga dapat dilakukan oleh UKM dan Koperasi.
5. Oleh karena usaha mikro belum layak untuk diikutsertakan dalam kegiatan
promosi maka keikutsertaannya dalam kegiatan ini dapat direkomendasikan
secara terbatas dengan subsidi biaya dari pemerintah.

DAFTAR BACAAN
Affandi, (1984). Manajemen Promosi dan Pemasaran Produk. PT. Bina Aksara. Jakarta.
Harry.R. Tosdal, (1969). Introduction to Sales Mangement. Mac Graw Hill Book Company
New York
Kasali Reinald, (2005). Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang
disampaikan dalam Seminar sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan
Dalam Menghadapi Pasar Global). Program Magister Manajemen Universitas
Indonesia. Jakarta.
Manulang, (1984). Marketing. Bharata. Jakarta.
Nurachmat, (2002). Kajian Manfaat Pameran dalam Meningkatkan Omset Industri kecil
(Thesis). Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung. 17
Panglaikim, (1980). Marketing (Suatu Pengantar). P.T. Pembangunan Jakarta.
Ramlan, (2001). Macam-macam Bentuk Promosi yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk
Industri Kecil. P.T. Bina Antar Nusa. Jakarta.
Shaw.A.R, (1967). Some Problem of Market Distribution. Business Review Havard
University of London.
Sujito, (1997). Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran melalui Program Promosi (Studi
kasus kebijakan Perdagangan Internasional). Program Pasca Sarjana Universitas
Gajah Mada.
Wahiddin, (2001). Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. Buletin
Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional.v